Kapasitas Terpasang Pembangkit Listrik Nasional

Temuan Utama:

1.Total kapasitas pembangkit listrik meningkat lebih dari 2 kali lipat dalam kurun waktu 20 tahun. Penggunaan PLTU batubara mendominasi akibat harganya yang paling rendah, ditunjang oleh besarnya subsidi yang diberikan pemerintah. Pada periode 2010 – 2018, kapasitasnya PLTU terus meningkat hingga mencapai 50% dari total pembangkitan di tahun 2019. Peningkatan penyediaan listrik ini dilakukan pemerintah untuk memenuhi proyeksi pertumbuhan permintaan listrik. Selain itu hal ini juga dilakukan sebagai upaya peningkatan konsumsi listrik yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan ekonomi.
2. Pada tahun 2001, kapasitas PLTD turun signifikan yaitu sebesar 73% lebih rendah dari tahun sebelumnya. Di tahun tersebut, produksi minyak dalam negeri mulai menyusut sehingga berdampak langsung pada penurunan penggunaan PLTD. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, sejak tahun 2001, jenis pembangkit listrik yang banyak digunakan adalah PLTU dan PLTGU.
3. PLT-EBT seperti PLTMH, PLTS, PLTP, PLTB, PLTS, PLTSa, dan PLTGB mengalami pertumbuhan yang lebih lambat, bila diakumulasi kapasitasnya hanya sebesar 4% dari total pembangkitan di tahun 2018 (76% diantaranya adalah PLTP). Hal tersebut dikarenakan biaya pembangkitan PLT-EBT yang belum bersaing dan kebijakan pemerintah yang kurang mendukung.
4. Sekitar 80% kapasitas PLT masih didominasi oleh bahan bakar fosil. Perkembangan PLT-EBT baru terlihat sejak tahun 2015 dengan pertumbuhan yang lambat