Transisi Energi 101

Transisi energi global pertama dapat dikatakan ditandai dengan penemuan mesin uap oleh Thomas Newcomen dan James Watt di akhir abad ke-18. Di era tersebut, terjadi perubahan dalam jumlah dan pola penggunaan energi yang pada awalnya didominasi oleh biomassa (kayu bakar) menjadi batu bara sebagai sumber energi utama. Gelombang berikutnya terjadi pada pertengahan abad ke-20 dengan pengenalan minyak dan nuklir pada tahun 1950-an. Dari tahun 1950-an hingga saat ini, pasokan dari energi terbarukan mulai mengambil alih dominasi energi fosil. Sehingga bisa dikatakan bahwa saat ini kita sedang berada digelombang transisi energi keempat yang kembali kepada pemanfaatan energi terbarukan

Transisi energi dari masa ke masa

Energi terbarukan

Batu bara

Minyak

Nuklir

Energi terbarukan

Akhir abad ke-18

Pertengahan abad ke-20

1950-an

 

Sekarang

Transisi energi gelombang keempat

Tiga fase utama

Fase Pertama (2015-sekarang): pertumbuhan eksponensial Energi Terbarukan

Fase Kedua (2025-2030): Puncak permintaan bahan bakar fosil

Fase Ketiga (2050): Energi Terbarukan mendominasi permintaan energi primer, sunset dari permintaan bahan bakar fosil

Penggunaan energi terbarukan mendukung usaha pencapaian target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Target penurunan emisi GRK ini ditetapkan secara global melalui Perjanjian Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim (Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change) atau yang lebih dikenal sebagai Paris Agreement. Paris Agreement merupakan kerangka kerja global (global framework) yang ditetapkan di tahun 2016, dalam rangka menghindari perubahan iklim yang berbahaya dengan membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 ° C dan mengusahakan upaya untuk membatasinya hingga 1,5 ° C diatas level pre-industri. Indonesia menetapkan Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai respon atas Paris Agreement. Dokumen NDC Indonesia menetapkan target pengurangan emisi GRK sebesar 29% dengan usaha sendiri atau hingga 41% dibawah kondisi Business-As-Usual (BAU) dengan dukungan internasional, pada tahun 2030.

Indonesia sendiri sudah merencanakan penggunaan energi terbarukan dalam rangka meningkatkan ketahanan energinya melalui penetapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN). Pemerintah Indonesia juga menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) melalui Peraturan Presiden (Perpres( Nomor 22 Tahun 2017, sebagai turunan dari KEN. Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23% dari total penyediaan energi primer (Total Primary Energy Supply, TPES) di tahun 2025 dan sebesar 31% di tahun 2050.

Mengapa Transisi Energi?

Akselerasi transisi energi di Indonesia perlu dilakukan dengan berbagai alasan:

1) Perubahan Iklim
Perubahan iklim merupakan alasan terbesar dalam akselerasi transisi energi. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim secara khusus mengacu pada kenaikan suhu global dari pertengahan abad ke-20 hingga saat ini, akibat aktivitas pembangunan global. Saat ini dunia berada dalam jalur yang tidak berkelanjutan dan perlu untuk menurunkan emisi karbonnya. Upaya pembangunan yang dilakukan Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil sehingga perlu segera bergeser kearah pembangunan rendah karbon yang lebih berkelanjutan.

Sektor energi merupakan kontributor perubahan iklim yang paling dominan, yang menyumbang hampir 90% dari emisi CO2 secara global. Di Indonesia sendiri, sektor energi merupakan kontributor emisi terbesar kedua setelah sektor lahan dan hutan, dan diproyeksikan akan menjadi kontributor utama apabila laju pertumbuhan emisinya tidak diintervensi. Oleh karena itu, transisi energi perlu dilakukan dengan segera untuk mengurangi kontribusi emisi dari sektor energi.

2) Negosiasi Iklim Internasional

Paris Agreement mewajibkan negara-negara anggota untuk mengambil peran dalam komitmen perubahan iklim, yang diwujudkan dengan penetapan NDC masing-masing. Realisasi NDC juga dapat mempengaruhi kedudukan politis masing-masing negara di skala internasional. Oleh karena itu, implementasi NDC dalam rencana pembangunan suatu negara sangat penting untuk dilakukan. Beberapa negara di dunia telah menetapkan kebijakan serta strategi pasar yang rendah karbon dalam rencana aksi nasional mereka.

Hingga 2023 dan kemudian setiap lima tahun, negara-negara yang telah meratifikasi NDC mereka akan melakukan penilaian terhadap progress kolektif dalam mencapai tujuan dari perjanjian Paris. Selain itu, untuk mendorong partisipasi satu sama lain dalam menurunkan emisi karbon, beberapa negara terlibat dalam perjanjian bilateral maupun multilateral yang merupakan turunan dari perjanjian Paris. Indonesia menjalin kerjasama dengan negara-negara seperti Jepang, Prancis dan Jerman dalam proyek-proyek rendah karbon. Terdapat pula pemberian pinjaman lunak bagi tujuan pembangunan yang berbasis energi terbarukan. Salah satu contohnya adalah pemberian pinjaman US$ 300 juta oleh ADB (Asian Development Bank) untuk mendorong peningkatan pembangkitan listrik tenaga geothermal/panas bumi di Indonesia (ADB, 2020).

3) Terobosan teknologi dan penggunaan energi baru
Dengan adanya pertumbuhan penggunaan energi terbarukan di tingkat global, penelitian dan pengembangan atas teknologi yang tersedia semakin meningkat. Akibatnya, teknologi energi terbarukan semakin beragam, berkualitas dan efisien. Pasar energi terbarukan juga membuat harga teknologi semakin murah, terutama teknologi seperti panel surya dan turbin untuk tenaga angin dan tenaga hidro. Saat ini, biaya rata-rata listrik (Levelized Cost of Electricity, LCOE) yang dihasilkan oleh teknologi energi terbarukan sudah kompetitif dengan biaya rata-rata listrik yang dihasilkan oleh teknologi energi fosil.

Teknologi energi terbarukan semakin mudah digunakan oleh individu. Instalasi pembangkit energi berskala kecil sudah semakin umum dilakukan, begitu pula dengan penggunaan kendaraan hybrid maupun kendaraan listrik. Bahkan saat ini teknolgi energi terbarukan sedang dikembangkan mengikuti tren digitalisasi dan internet of things (IoT), dimana penggunaan teknologi energi terbarukan akan terintegrasi dengan penggunaan internet.

4) Kondisi geopolitik dan ekonomi

a) Desentralisasi pembangkitan listrik

Perkembangan teknologi energi terbarukan memungkinkan terjadinya desentralisasi pembangkitan listrik, yang tidak dapat dilakukan dengan penggunaan energi fosil. Keunggulan energi terbarukan ini memudahkan penyediaan listrik di daerah luar jaringan (offgrid) seperti di daerah pelosok atau pulau kecil. Instalasi energi terbarukan juga bermanfaat untuk penyediaan listrik di lokasi yang permintaan listriknya rendah. Penyediaan listrik energi fosil cenderung mahal di lokasi luar jaringan maupun lokasi dengan permintaan listrik rendah karena biaya modal instalasi dan biaya operasional pembangkitnya tinggi.

b) Tren investasi energi terbarukan dan divestasi energi fosil
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi tren peningkatan investasi energi terbarukan secara global. Sejak tahun 2010, investasi energi terbarukan selalu lebih besar dari US$ 200 miliar per tahunnya (IRENA, 2019). Hal ini menjadi signifikan mengingat investasi energi terbarukan di awal 2000an tidak sampai US$ 50 miliar per tahun. Kenaikan tingkat pertumbuhan investasi dalam waktu sekitar 20 tahun ini didukung dengan penurunan harga energi terbarukan yang dramatis sehingga menyebabkan biaya pembangkitan dari energi terbarukan menjadi kompetitif dan bahkan lebih murah dibandingkan dengan energi fosil.

Di saat bersamaan terjadi pergeseran investasi energi dari berbasis fosil ke energi terbarukan. Pada pertengahan 2019, sudah ada setidaknya 112 lembaga keuangan utama di seluruh dunia yang telah memutuskan untuk beralih dari investasi batubara ke energi terbarukan (IEEFA, 2019). Lembaga-lembaga keuangan ini telah mengidentifikasi risiko aset-aset yang terdampar dari investasi bahan bakar fosil sebagai akibat dari alternatif yang semakin murah, domestik dan berkelanjutan, yang muncul sebagai solusi berbiaya rendah untuk memenuhi meningkatnya permintaan energi. Langkah ini juga dilihat sebagai upaya mendorong pemerintah untuk memenuhi kewajiban mereka dalam Perjanjian Paris.

c) Pengadaan untuk instalasi pembangkit energi terbarukan
Dalam upaya meningkatkan instalasi pembangkit energi terbarukan, beberapa negara melaksanakan pengadaan yang dapat diikuti oleh pihak swasta. Bahkan di beberapa negara seperti Singapura, pemerintah setempat telah menugaskan satu lembaga khusus yang menangani pengadaan untuk instalasi pembangkit energi terbarukan. Hal ini terbukti meningkatkan partisipasi publik dalam meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional dan juga menurunkan biaya pembangkitan.
Saat ini terdapat beberapa mekanisme pengadaan yang diimplementasikan berbagai negara, seperti pelelangan terbalik (reverse auction) yang dilakukan oleh pemerintah India, skema sewa atap (rooftop lease scheme) oleh pemerintah Singapura maupun pemberian kredit energi terbarukan (renewable energy credit) oleh pemerintah Australia. Mekanisme pengadaan yang diimplementasikan pemerintah memberikan insentif kepada produsen listrik independen untuk menyediakan pembangkit listrik dalam skala yang lebih besar.

d) Kebebasan dari ketergantungan fosil
Sumber energi terbarukan bervariasi dan tersebar hampir diseluruh negara. Kemampuannya untuk terus mengalir membuat biaya marjinal pembangkitan yang berasal dari sumber energi terbarukan menjadi hampir nol. Hal-hal ini dapat memberikan kebebasan bagi negara-negara yang selama ini harus mengandalkan impor bahan bakar yang terkonsentrasi pada beberapa negara yang memiliki cadangan fosil yang memadai. Dalam kasus Indonesia, meskipun memiliki cadangan batubara, potensi energi terbarukan Indonesia jauh lebih besar, hingga 432 GW menurut data ESDM. Penggunaan energi terbarukan dapat meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi beban negara dalam usaha penyediaan listrik di seluruh Indonesia. Hal ini harusnya dapat meyakinkan pemerintah untuk bertransisi kearah energi terbarukan.

Dengan mengandalkan sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan, suatu negara berpeluang untuk mendorong pertumbuhan ekonominya dan menjamin keberlanjutan dari berbagai aktivitas ekonomi. Negara-negara yang mengadopsi energi terbarukan terlebih dahulu bahkan dapat menikmati keunggulan kompetitif (competitive advantage) dibandingkan negara-negara yang mengadopsi energi terbarukan lebih lambat.

5) Perubahan dalam perilaku konsumer listrik
a) Kesadaran perubahan iklim
Efek dari perubahan iklim telah mempengaruhi setiap orang, meskipun dalam porsi yang berbeda-beda. Dengan adanya kemudahan penyebaran informasi, kesadaran akan penyebab perubahan iklim dan upaya menghindari atau mengatasi implikasinya semakin dapat diakses oleh publik. Sehingga bagi banyak orang, transisi menuju energi terbarukan sangat penting untuk mendukung pertumbuhan yang rendah karbon. Tidak jarang yang membuat keputusan konsumsi berdasarkan pengaruhnya terhadap peningkatan karbon.
Menanggapi kesadaran publik dan tren keekonomisan dalam produksi di masa depan, semakin banyak perusahaan dan investor yang menyadari pentingnya perubahan konsumsi energi kearah energi terbarukan, sehingga mereka menginginkan penggunaan energi bersih dalam aktivitas produksinya.

b) Usaha pengurangan polusi untuk menjamin kualitas kesehatan dan lingkungan
Meningkatnya aktivitas manusia yang mengandalkan pembakaran fosil membuat polusi semakin meningkat. Pembakaran fosil diketahui dapat menyebabkan polusi udara yang telah terbukti merugikan manusia karena dapat menimbulkan berbagai penyakit dan bahkan menyebabkan kematian prematur. Beberapa studi menemukan bahwa pembakaran batubara sebagai sumber energi mengakibatkan 6.500 – 7.000 kasus kematian per tahun di Indonesia, dan berpotensi mengakibatkan lebih banyak kematian per tahun apabila pemerintah terus membangun PLTU baru.
Selain polusi udara, pembakaran fosil juga dapat menyebabkan polusi lahan dan air. Batubara dapat mencemarkan lingkungan mulai dari proses penambangan hingga pembakaran di PLTU. Apabila pencemaran lingkungan terjadi, maka kualitas tanah dan air menjadi buruk bahkan berbahaya untuk dikonsumsi mahluk hidup.

c) Preferensi
Bagi sebagian orang, penyediaan listrik tidak lagi sebatas kebutuhan hidup tetapi juga telah menjadi gaya hidup. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan perubahan iklim dan upaya penurunan polusi yang disebabkan oleh pembakaran energi fosil membuat energi terbarukan lebih unggul dari energi fosil. Apalagi dengan adanya pilihan pembangkitan listrik dari energi terbarukan yang lebih mudah diakses dan murah, semakin banyak orang beralih ke energi terbarukan.