Hai sobat Greenies maupun kawan GEB, kalian udah pada tahu gak kalau Indonesia lagi gencar-gencarnya melakukan aksi TRANSISI ENERGI ?? Eitss, tapi sebelumnya kalian udah tau pemicunya gak? oke2 mari kita kilas balik dulu ya ~ #Akademitransisienergi #IESR THREAD
Nah, menurut data dari NASA, suhu di permukaan bumi sudah naik 1,02 derajat Celcius. Dan pemicunya si GRK ini yang terlepas ke atmosfer dalam jumlah banyak semenjak adanya Revolusi Industri. Fenomena ini juga yang menyebabkan Global Warming. Mau liat bukti lainnya? #Genergibersih
Suhu di Kota Bandung mengalami kenaikan yang signifikan. Ini nih yang buat Bandung jadi panas pisan sekarang. Dan bahkan suhu hariannya pernah tembus 34 derajat Celcius dong. Kebayang kan kalau kita tetap sepele sama hal ini. #REnergizingSREUI #IESR
for more information ’bout energy transition. Thx #Akademitransisienergi

47 Comments
Memang kita sudah tidak bisa menunda lagi untuk tidak memikirkan pemakaian energi alternatif yg ramah lingkungan,sebab pemakaian energi fosil yg dilakukan sekarang selain sudah menipisnya persediaan dampaknya terhadap lingkungan sudah semakin parah merusak lingkungan….semoga semakin banyak generasi muda yg harus memikirkan menyelamatkan dunia yg sudah sakit parah ini
Semoga semakin banyak generasi muda yg peduli dgn keru
Semoga makin banyak generasi muda yg peduli dgn kerusakan lingkungan akibat pemakaian bahan bakar yg bersumber dari fosil,dunia sudah sangat rusak akibat pemakaian bahan bakar fosil yg berlebihan disamping persediaan yg sudah sangat menipis,mari terus pikirkan bahan bakar alternatif yg ramah lingkungan dan sangat banyak sumbernya di Indonesia ini.
Iyaa sih, memang bener kondisi bumi kita saat ini perlu diperhatikan dan diselamatkan dari efek akibat revolusi industri. Pelan-pelan kita bisa beralih dari energi yang tak terbaharukan ke yang terbarukan dan lebih ramah lingkungan seperti yang dipaparkan di atas. Semoga dari sini, banyak orang yang lebih aware, lebih peka, lebih peduli akan kondisi lingkungannya.
Yang ada justru dijaga dan dirawat, bukan dirusak dan mencari lingkungan yang baru untuk dirusak kembali. Let’s change!!
so well-researched and good insight!
Sebagai generasi muda, sudah seharusnya kita melek terhadap isu kerusakan lingkungan di sekitar kita. Sudah seharusnya kita mulai melakukan transisi energi demi menjaga bumi kita untuk kedepannya. Jika tidak dimulai dari kita, apa jadinya bumi tercinta kita kedepannya ??
Sangat mengedukasi dan semoga kedepannya semakin banyak orang yang perduli terhadap bumi
Benar banget sihhh, kondisi cuaca saat ini dari hari ke hari semakin panas, suhu di setiap daerah memiliki kenaikan yang sangat signifikan, dan tanpa kita ketahui ternyata salah satu limbah masyarakat yaitu minyak jelantah bisa digunakan sebagai alternatif yang bisa sangat membantu permasalahan yang dialami masa kini yang dimana kita bisa menghemat anggaran hingga Triliunan.
Jika bukan kita yang memulai, siapa lagi?
Well research
Sangat setuju banget, minyak jelantah yang dibuang begitu saja juga akan memberi dampak buruk bagi tanah, karena akan diserap melalui pori-pori tanah lalu menyumbatnya. Tanah akan menjadi keras dan tingkat kesuburan tanah akan berkurang. Ini juga berpengaruh terhadap kualitas air tanah di dalamnya. Jadi, memanfaatkan minyak jelantah sebagai biodiesel adalah ide yang cemerlang.
Artikel yang sangat menarik, semoga kedepannya semakin banyak alternatif lain sebagai pengganti, untuk mewujudkan penggunaan energy terbarukan di segala sektor dari yang ada saat ini.
Pemaparan yang bagus, lengkap, menarik, dan keren.. Yuk take action untuk bumi yang lebih baik, mulai dari diri sendiri dulu!
“adanya isu pemanasan global ini membuat kita sebagai makhluk hidup harus aware dengan keadaan bumi kita. Untuk itu, salah satu cara kita untuk memitigasi dampak lingkungannya dengan melakukan transisi menuju energi hijau. Dengan pengolahan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel ini, diharapkan nantinya dapat berkelanjutan dan dapat meminimalisir penggunaan bahan baku CPO sawit sebagai biodiesel. Sehingga kedepannya biodiesel lebih hijau dan mampu menghijaukan bumi yg kita cintai lagi”.
Terima kasih penulis yang telah memberikan insight terkait Transisi Energi dimana energi bersih berkelanjutan memang sangat penting untuk masa depan bumi kita ini, salah satunya biodiesel berbahan baku minyak jelantah. Walaupun masih sedikit pengolahannya dibandingkan biodiesel berbahan baku kelapa sawit, diharapkan kedepannya lebih dimanfaatkan. Seperti yg diketahui minyak jelantah sendiri memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi limbah ke lingkungan, baik untuk kesehatan dan pastinya menjaga hutan dari terdegradasi akibat pembukaan lahan sawit yang baru untuk dijadikan sebagai bahan baku biodiesel serta mampu mendukung ekonomi berkelanjutan.
Terimakasih atas informasi yang bermanfaat ini. Sudah banyak dampak dari pemanasan global di bumi yang kita rasakan, salah satunya perubahan cuaca yang ektrim. Bahkan, untuk musim penghujan & kemarau saja sudah sangat bergeser ketimbang jaman dulu. Ayo mulai dukung transisi energi, sehingga nantinya Indonesia mampu mencapai target nir emisi.
Mari kita sebagai generasi muda penerus bangsa mulai gencar melakukan kampanye transisi energi. Berbagai macam inovasi dalam rangka menciptakan energi terbarukan patut diapresiasi. Sudah selayaknya kita tidak menggangap isu lingkungan ini adalah hal yang kecil. Dukungan dari berbagai kalangan juga turut berandil dalam kesuksesan kita melakukan transisi energi bersih.
Artikel yang menarik. Saya mengikuti perkembangan produk biodiesel dari Pertamina, B35. Untuk saat ini, masih menggunakan campuran dari CPO. Berharap ke depannya, Pertamina mulai melirik minyak jelantah sebagai bahan baku campuran biodiesel. Semangat sebagai generasi muda yang terus mendukung dan melaksanakan transisi energi !!!
Pernah baca di suatu artikel, bahwa penggunaan UCO sebagai bahan biodiesel ngasih keuntungan karbon kredit yang cukup berpotensi besar bagi produsen. Namun, di Indonesia sendiri regulasi yg mengatur tata kelolanya masih belum ada. Dan juga, masih banyak kendala lainnya. Mungkin, kedepannya minyak jelantah ini sudah lebih siap dalam berbagai hal dan dapat dimaksimalkan menjadi alternatif bahan bakar berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan ketahanan energi di Indonesia.
Materi bagus bisa menambah wawasan tentang informasi yang baru, yang jadi permasalahan tidak semua masyarakat bisa membaca materi ini perlu di lakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat sehingga bisa tepat sasaran.
Terus Hijaukan Negri Untuk Hutan Yang Lestari
Terimakasih aa rena, yuk sebagai insan perhutani, mari kita dukung inovasi energi bersih demi bumi kita tercintai ini ya..
Materi sangat informatif dan tentunya perlu inklusi secara menyeluruh tentang Transisi Energi, sehingga masyarakat kedepannya lebih paham bahwa hal sekecil apapun yg dilakukan dapat berpengaruh dalam pengurangan emisi GRK di bumi ini. Ayoo terus cintai Bumi kita ini
Terimakasih sudah berbagi pengetahuan yg baru, saya jadi bertambah wawasannya. Untuk kasus transisi energi, kita harus saling mendukung satu sama lain. Tidak boleh, kita berpikiran hanya satu kelompok saja yang harus melaksanakannya. Toh, kita hidup dibumi sama sama. Yuk semangat.
Wahh, aku setuju nih kak. Memang sudah seharusnya kita sebagai generasi muda penerus bangsa ini lebih peduli terhadap lingkungan khususnya lingkungan sekitar kita. Semoga kedepannya, potensi dari minyak jelantah semakin kita sadari. Yang pastinya kita dapat mencegah pencemaran lingkungan, sekaligus mendukung ekonomi daerah setempat.
Di Bali penggunaan minyak jelantah sebagai bahan bakar sendiri sudah diterapkan. Contohnya saja, beberapa resort menggunakannya sebagai bahan bakar genset. Semoga, kedepannya penggunaan minyak jelantah sebagai biodiesel dapat lebih luas. Ya walaupun, untuk pengolahannya harus lebih rumit, karena tingkat asam jenuhnya tinggi.
Sebagai salah satu pegawai yang bekerja di perusahaan energi, tentunya inovasi seperti ini sangat bagus. Terlebih ditempat saya bekerja, ada project penggunaan bahan alternatif untuk nantinya mampu menggantikan fungsi batubara. Mungkin, kedepannya inovasi ini dapat diuji cobakan di PLTD. Salah satu usaha agar target bauran EBT di Indonesia dapat tercapai.
Memang harus diakui, kebanyakan masyarakat kita belum menyadari manfaat besar dari minyak jelantah itu sendiri. Kurangnya sosialisasi dan edukasi menjadi salah satu faktornya. Keseringan minyak jelantah dipake berulang terus hingga warnanya bisa hitam banget minyaknya. Sudah seperti itu justru buruk buat kesehatan kita.
Dengan pembahasan ini, semoga kita jadi lebih aware dengan manfaat minyak jelantah, yang lebih baik ditukarkan ke organisasi yang mengolahnya ketimbang dibuang yang bisa mencemari lingkungan.
Infografis yang menarik. Agar program ini dapat tercapai, perlunya edukasi lebih lanjut kepada masyarakat tentang manfaat minyak jelantah (UCO) ini perlu lebih ditingkatkan. Agar proses dari hulu ke hilir nya dapat terlaksana dengan baik.
Hal kecil kayak gini harus dibahas terus nih, tindakan kecil bisa berefek besar. Hal yang kita anggap tidak berguna justru memberikan dampak besar buat lingkungan, bahkan bisa jadi solusi untuk permasalahan lingkungan kita saat ini
Lambat laun pemakaian dari bahan bakar fosil harus kita tinggalkan, Pertamina udah seharusnya melirik bahan bakar yang ramah lingkungan dan terus dapat diperbaharui, yakni minyak jelantah agar kita dapat bertransisi dalam energi
Good information, dari beberapa point pada infografis, informasinya sudah sangat jelas. Tinggal pelaksanaannya saja yang masih ada kendala. Ayo kita sukseskan transisi energi di negeri tercinta ini, Indonesia.
Masyarakat saat ini, butuh informasi2 seputar energi terbarukan yang mendukung program transisi energi. And this infographic have it. From now on, hope more people getting more concern bout this kind of issue. And maybe can learn from Japan how they could process used cooking oil to become biodiesel.
Kalo bukan sekarang,kapan lagi..Jangan menunggu..Bangsa Indonesia dapat memanfaatkan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) sebagai sumber energi.Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel memiliki banyak manfaat. Jika dikomparasi, setiap tahunnya hasil pengumpulan minyak goreng bekas itu dapat mengurangi pelepasan enam juta ton emisi gas rumah kaca..Semangat terus kepada Penulis dan kita semua untuk menjadi agen perubahan untuk Indonesia Hijau..
Setuju banget sama penulis, biodiesel bisa jadi salah satu metode efektif dalam mengurangi emisi karbon. Jumlah pemakaian bahan bakar diesel dan minyak goreng yang besar di Indonesia bahkan dunia, akan membuat solusi ini memiliki dampak yang signifikan. Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku juga membantu mengurangi pencemaran limbah minyak goreng yang sulit diuraikan di air dan di tanah.
Terima kasih kepada penulis untuk materi yang komplit dan disertai petunjuk tindakan yang konkrit. Kita semua bisa langsung bertindak dan punya andil dalam mengurangi perubahan iklim dengan langkah-langkah sederhana.
Seneng baca artikelnya, ketika muncul terobosan-terobosan untuk mencapai NZE di tahun 2050-2060, karena NZE sudah menjadi komitmen bersama seluruh negara di dunia. Memang perlu pergerakan nyata dan masif untuk mencapai target tersebut. Kalau ngga dimulai dari sekarang, kapan lagi???
Semangat ya author, semoga kedepannya semakin banyak mengedukasi masyarakat untuk mulai menggunakan energi terbarukan dari bahan2 alternatif lainnya yang mampu mewujudkan target Indonesia untuk mencapai zero emmission.
what a nice article. Fighting for ur competition ya kak
Terkait info yang disampaikan di atas, memang dampak dari kerusakan bumi ini sudah kita rasakan. Misalnya, kegagalan panen, meningkatnya intensitas hujan dalam kurun beberapa tahun kebelakang, dan bahkan jika kita tidak lebih peduli terhadap lingkungan, Jakarta digadang gadang dapat tenggelam di tahun 2030. Kita gak mau kan, hal seperti terjadi. Utk itu, yuk kita mulai melakukan transisi energi. Mulai gunain EBT, ya salah satu contohnya ini pengolahan minyak jelantah yg nantinya menjadi Biodiesel. Nah, utk hal2 kecilnya, kita bisa mulai dari naik angkutan umum, minimalisir penggunaan plastik dkk. Yuk, teman-teman kita pasti bisa…
Materi nya sudah cukup jelas, penulisan mudah dipahami.
artikelnya sangat mengedukasi. selain bisa mengurangi limbah minyak jelantah, ternyata banyak juga keuntungan yang lainnya.
semoga kedepannya inovasi ini dapat jadi alternatif energi terbarukan yg ramah lingkungan.
Info menarik, berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menaungi potensi minyak jelantah ini. Karena jikalau tidak dilakukan, nantinya para penghasil minyak jelantah dalam skala besar pasti akan me mark up harga utk mencari keuntungan tersendiri.
Sebagai gen Z, saya merasa masih belum banyak hal-hal kecil yang saya lakukan untuk transisi energi. Tapi, ketika saya membaca artikel ini, saya menjadi termotivasi utk melakukannya. Dulu, sebelum membaca ini, minyak jelantah sisa dirumah selalu saya buang saja. Nah, ketika membaca ini, saya jadi berniat untuk mengumpulkan dalam volum tertentu, dan nantinya akan saya tukarkan di para pengumpul minyak. Semoga dengan aksi kecil ini, dapat menyelamatkan lingkungan sekitarnya untuk kedepannya.
Artikel yg sangat menarikk… menambah wawasannn sekali marshaaaa.. keren!
Artikel yang menambah pengetahuan. Semoga kedepannya makin banyak artikel-artikel yg membahas inovasi terkait Energi terbarukan di Indonesia yang mendukung program Transisi Energi tentunya. Mari sama-sama ikut dalam menangani dampak dari pemansan global
artikel yang menarik dan mengedukasi. Mari kita mulai dari diri sendiri dan tidak usah jauh2, mari kita lakukan dari hal-hal kecil. Karena hal-hal kecil juga mampu membawa perubahan
Terimakasih penulis atas artikel edukatifnya. Semangat untuk terus berbagi artikel yang bermanfaat ya
Terimakasih, kontennya sangat bermanfaat. Terus berkarya ya kakak penulis
Di Indonesia sendiri, beberapa pihak seperti mahasiswa sudah pernah meneliti proses pengolahan dari minyak jelantah untuk menjadi biodiesel. Namun, yang saya baca, ada saja kendala, seperti kekurangannya dana dukungan, dan prosesnya yang terbilang cukup sulit. Untuk itu, semoga saja kedepannya, pertamina ikut menjadi salah satu kunci dari pengembangan inovasi ini untuk mencapai target nir emisi pada 2060