Transisi Energi
  • Beranda
  • Info
    • Tentang
    • Kontak
    • Agenda
    • Forum
  • Akademi
  • Lumbung Pengetahuan
    • Artikel
    • Publikasi
    • Data Visualisasi
    • Data Insight
    • Glosarium
    • Siniar
    • Video
    • Lomba Konten
  • Relawan
    • Generasi Energi Bersih
    • Ekowisata Biru
  • Alat Pemantau
    • Radar Batubara
    • Pemantau Transisi Energi Asia Tenggara
  • Kerja/Karir
Transisi Energi
mobile logo

Ekowisata Biru

    Transisi Energi > Ekowisata Biru

Galang Ekowisata Biru

Tebus Emisi Karbon dengan Dukung warga RW 09 Kesunean Selatan Kembangkan Area Ekowisata Hutan Mangrove

.

Tambak di sekitar RW09  Kesunean Selatan, Kota Cirebon yang ditopang oleh ekosistem Hutan Mangrove (November 2023)

Hutan mangrove berperan penting dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Pohon mangrove menyerap CO2 ­melalui proses fotosintesis dan menyimpan karbon dalam biomassa (daun, batang, akar) mereka. Uniknya, tanah rawa dan lumpur di hutan mangrove juga bisa memerangkap karbon dalam bentuk yang lebih stabil. Jika dibandingkan dengan hutan tipe lain hutan mangrove memiliki kemampuan yang cukup besar untuk menyimpan karbon mencapai 702 tC/ha setara dengan 2572,98 tCO2eq/ha, sedangkan kapasitas stok karbon hutan tropis berkisar antara 274-337 tC/ha. Jumlah emisi karbon yang bisa disimpan hutan mangrove per hektar tersebut setara dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh pembakaran 1307,31 ton batu bara. Maka dari itu, pelestarian hutan mangrove tidak hanya bermanfaat bagi keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir, tetapi juga memiliki dampak positif dalam mengurangi emisi karbon.

*Balai Kota Cirebon menjadi simbol pemerintahan di kota Cirebon yang mendukung Pengembangan Kawasan Hutan Mangrove di RW09 Kesunean Selatan.

RW 09 Kesunean Selatan terletak di daerah pesisir Kota Cirebon, tepatnya di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk. Letak wilayahnya cukup strategis karena dekat dengan berbagai destinasi wisata utama kota cirebon seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman, Masjid Agung Kota Cirebon, Masjid Merah Panjunan dan Pantai Kejawanan. Kesunean Selatan merupakan wilayah padat penduduk, dengan tingkat ekonomi rendah. Dahulu, Kesunean Selatan bahkan seringkali disebut sebagai kampung kumuh dan tidak tertib. Dengan semangat gotong royong dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, kerjasama antara pengurus RW, RT dan Kader berhasil membawa perubahan signifikan. 

Perjuangan warga RW 09 lainnya yang patut diapresiasi adalah usaha dalam mempertahankan hutan mangrove di wilayahnya. Hutan mangrove di Kesunean Selatan, menjadi satu-satunya yang masih bertahan di sepanjang pesisir Kota Cirebon. Hutan tersebut dirawat dan dijaga langsung terutama oleh Kelompok Kerja (Pokja) mangrove RW 09 sejak tahun 2000an. Dahulu, Pokja harus susah payah menjaga area pesisir yang sudah ditanami bibit mangrove dari fenomena tanah timbul. Tanah timbul adalah sebuah fenomena dimana warga dengan sengaja mengumpulkan sampah, kemudian menumpuk dan menimbunnya di pesisir hingga memadat dan membentuk daratan baru untuk digunakan sebagai area bermukim.

Sudah 20 tahun lebih berlalu, kini pohon mangrove di hutan tersebut sudah menjulang tinggi dan menjadi rumah bagi berbagai macam satwa seperti burung, ikan-ikan, kerang dan lainnya. Sayangnya keberadaan hutan mangrove ini masih terancam, meskipun fenomena tanah timbul di RW 09 berhasil diredam dan semakin banyak warga yang sadar tentang pentingnya hutan mangrove, masih ada beberapa warga yang melakukan penebangan pohon mangrove untuk dijadikan kayu bakar. Penembakan burung juga seringkali terjadi, bibit-bibit mangrove baru yang tumbuh seringkali terinjak-injak oleh nelayan setempat yang perlu pergi ke ujung hutan mangrove untuk mencari ikan dan kerang.

Pengurus RW 09, RT, kader dan khususnya Pokja mangrove RW 09 berharap hutan mangrove ini bisa terus dipertahankan. Impian mereka adalah agar suatu saat nanti Kesunean Selatan bisa menjadi kawasan ekowisata hutan mangrove. Dengan adanya kawasan ekowisata hutan mangrove, diharapkan semakin banyak warga yang bisa merasakan manfaat keberadaan hutan mangrove ini secara langsung, dengan banyaknya pengunjung, ekonomi warga juga bisa semakin meningkat karena ada semakin banyak peluang usaha.

Proyek Galang Ekowisata Biru diinisiasi untuk mendukung impian warga Kesunean Selatan mengembangkan kawasan ekowisata mangrove dengan membuka kesempatan bagi siapapun untuk ikut berkontribusi melalui donasi. Setiap donasi yang diberikan akan dikonversi dan dihitung estimasi serapan karbonnya, sehingga melalui program ini donatur bisa sekaligus melakukan tebus emisi karbon. 

Bentuk dukungan dan manfaat yang akan dirasakan oleh warga RW 09 melalui donasi yang trekumpul diantaranya adalah: 

1) Pelatihan Batik Ecoprint berbasis pewarna alam terutama mangrove untuk ibu-ibu kader. Peserta pelatihan ini akan membentuk kelompok usaha batik RW 09 dan menjadi agen untuk menyebarkan keterampilan membatik ini kepada ibu-ibu lain untuk sama-sama berdaya dan mandiri secara ekonomi, 

2) Penanaman bibit mangrove dan bantuan dana perawatannya untuk mendukung kegiatan pokja dalam merawat hutan mangrove secara rutin dan berkala, 

3) pembangunan mangrove track/jembatan di dalam area hutan mangrove sehingga nelayan bisa berjalan menuju ke laut tanpa menginjak-injak bibit dan diharapkan bisa menarik pengunjung. 

Proyek Galang Ekowisata Biru ini juga bekerjasama dengan pemerintah kota, kecamatan, kelurahan dan dinas-dinas terkait untuk turut mendampingi dan berkolaborasi dengan pengurus RW 09, pokja dan kader melalui berbagai program pemberdayaan dalam rangka peningkatan kualitas hidup dan lingkungan sekitarnya, serta terus mensosialisasikan tentang pentingnya hutan mangrove kepada warga lainnya.

.

Pak RW09, kader Bank Sampah dan Posyandu RW09 Kesunean Selatan bersama Generasi Energi Bersih bersemangat untuk mengembangkan kawasan Hutan Mangrove di Kesunean Selatan 

Tunjukkan dukunganmu melalui donasi untuk mewujudkan Proyek Galang Ekowisata Biru sambil Tebus Emisi. Setiap donasi yang diberikan setara dengan pengurangan sejumlah besar emisi lho! Cek paket Donasi, estimasi jumlah tebus emisi dan benefit lainnya dibawah ini ya!

Paket Kenalan

Jumlah Donasi: Rp. 39.999,00 Benefit: Adopsi 1 pohon di Hutan Mangrove Kesunean Selatan (Estimasi Emisi Karbon 257,3 KgCO2eq) Total Estimasi serapan emisi karbon: 257,3 KgCO2eq atau setara dengan penggunaan 109,6 liter bensin. Sertifikat Tebus Emisi Karbon
Pilih

Paket Teman

Benefit: Adopsi 2 pohon di Hutan Mangrove Kesunean Selatan (Estimasi Emisi Karbon 514,6 KgCO2eq) Tanam 1 bibit mangrove di Kesunean Selatan dan laporan pemantauan pertumbuhan bibit hingga 3 tahun (Estimasi Emisi Karbon 90 KgCO2eq) Total Estimasi serapan emisi karbon: 604,6 KgCO2eq atau setara dengan penggunaan 257 liter bensin Sertifikat Tebus Emisi Karbon
Pilih

Paket Sahabat

Jumlah Donasi: 499.999,00 Benefit: Adopsi 4 pohon di Hutan Mangrove Kesunean Selatan (Estimasi Emisi Karbon 1029,2 KgCO2eq) Tanam 2 bibit mangrove di Kesunean Selatan dan laporan pemantauan pertumbuhan bibit hingga 3 tahun (Estimasi Emisi Karbon 180 KgCO2eq) Total Estimasi serapan emisi karbon: 1209,2 KgCO2eq atau setara dengan penggunaan 514 liter bensin Sertifikat Tebus Emisi Karbon Syal Batik Ecoprint Hasil Kerajinan Ibu-ibu Kesunean Selatan
Pilih

Paket Korporasi

Jumlah donasi: 5.000.0000 Benefit: Adopsi 70 pohon di Hutan Mangrove Kesunean Selatan (Estimasi Emisi Karbon 18.010,9 KgCO2eq), Tanam 35 bibit mangrove di Kesunean Selatan dan laporan pemantauan pertumbuhan bibit hingga 3 tahun (Estimasi Emisi Karbon 3150 KgCO2eq), Total Estimasi serapan emisi karbon: 21160,9 KgCO2eq atau setara dengan penggunaan 9000 liter bensin, Sertifikat Tebus Emisi Karbon, Syal Batik Ecoprint Hasil Kerajinan Ibu-ibu Kesunean Selatan, 2 Kali Postingan di IG Generasi Energi Bersih, 1 Kali Publish melalui Newsletter
Pilih

*Catatan:

– Estimasi serapan emisi karbon dari adopsi pohon mangrove yang sudah ada di hutan mangrove jauh lebih besar karena jumlah emisi karbon yang dihitung tidak hanya dari biomassa hidup/pohon mangrovenya saja, tetapi juga memperhitungkan emisi karbon yang sudah tersimpan dalam biomassa abiotik/tak hidupnya seperti lumpur, serasah dan lainnya.

– Sedangkan estimasi serapan emisi karbon dari bibit mangrove yang ditanam hanya dihitung dari kemampuan biomassa hidup/pohon mangrove itu sendiri dalam menyerap karbon selama masa hidupnya yaitu ± 20 tahun, tetapi jika bibit-bibit mangrove yang ditanam ini tumbuh menjadi ekosistem hutan mangrove lainnya, makan serapan emisi karbonnya akan jauh lebih tinggi dari yang di estimasikan, karena aka ada karbon-karbon yang juga tersimpan di lumpur maupun serasah hutan mangrove yang terbentuk.

Don't have an account yet? Register Now
💬 Butuh bantuan?
Powered by Joinchat
Halo Sobat Energi Bersih
Ada yang bisa kami bantu?
Open chat