
Di tengah hiruk pikuk sebuah kota, sering terlintas keinginan untuk melihat yang hijau-hijau nan teduh. Saat ini terjadi, biasanya kita kemudian berangkat untuk mengunjungi tempat seperti Urban Forest Cipete atau Tebet Eco Park. Kedua tempat ini merupakan contoh hutan kota sebagai salah satu bentuk ruang terbuka hijau. Namun apakah Kamu tahu bahwa hutan kota juga merupakan solusi inovatif menghadapi tantangan emisi karbon di perkotaan? Mari kita bahas.
Mari mulai dari yang sederhana dulu, Apa itu hutan kota?
Hutan kota, atau urban forests, adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. Definisi ini mengacu pada PP no 63 tahun 2002 loh. Simpelnya, hutan kota ini mengacu pada area hijau di dalam atau di sekitar kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ekosistem yang mirip dengan hutan alami. Di tengah urbanisasi yang terus meningkat, hutan kota menawarkan potensi besar untuk mengurangi jejak karbon kota-kota besar sambil memberikan manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi bagi penduduk perkotaan serta lingkungan secara keseluruhan.
Pertanyaan berikutnya, apa peran hutan kota dalam mengatasi perubahan iklim dan menciptakan lingkungan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan?
Hutan kota menyerap emisi melalui penyerapan karbon dioksida (CO2) dari udara melalui proses fotosintesis. Proses ini terjadi di kloroplas, di mana pigmen hijau bernama klorofil menangkap energi cahaya. Energi tersebut digunakan untuk memecah air menjadi oksigen, proton, dan elektron. Oksigen dilepaskan ke atmosfer sebagai produk sampingan. Elektron yang dihasilkan digunakan untuk membuat adenosin trifosfat (ATP) dan nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADPH), yang kemudian digunakan dalam siklus Calvin untuk mengubah CO2 menjadi glukosa. Dengan demikian, hasil akhir dari fotosintesis ini adalah oksigen dan zat makanan berbentuk glukosa. Yangmana keduanya diperlukan tanaman itu sendiri dan juga digunakan makhluk hidup lain disekitarnya.
Pengukuran serapan karbon dioksida dapat dilakukan dengan metode karbohidrat, yakni dengan mengukur massa glukosa yang dihasilkan selama fotosintesis untuk menentukan massa karbondioksida yang diserap oleh tanaman. Hal ini dikarenakan massa karbon dioksida dalam proses fotosintesis berbanding lurus dengan jumlah karbon dalam karbohidrat. Dengan menggunakan CO2 sebagai bahan utama untuk pertumbuhan mereka, pohon dan vegetasi dalam hutan kota mampu mengurangi jumlah CO2 yang berada di atmosfer. Penurunan kadar CO2 dalam udara akan terjadi bersamaan dengan peningkatan kadar oksigen. Hal ini dapat membuat udara terasa lebih sejuk dan segar saat dihirup.
Selain penyerapan, hutan kota juga berperan sebagai penyimpan karbon. Ini adalah sesuatu yang terjadi setelah penyerapan melalui proses fotosintesis. Jadi, hasil fotosintesis berupa glukosa (dan karbon penyusunnya) yang tidak digunakan akan disimpan dalam tiap strukturnya seperti batang, akar, cabang serta daun dalam bentuk organik. Penyimpanan karbon ini kemudian akan meningkat seiring dengan pertumbuhan tanamannya. Jika dibandingkan dengan jenis tanaman lain, pohon dapat menyimpan karbon dalam jangka waktu yang lebih lama karena ukurannya yang besar dan masa hidupnya yang relatif lebih lama. Maka dari itu, pohon yang banyak tertanam dalam hutan kota dapat membantu untuk mempertahankan karbon dalam bentuk organik dan tidak terlepas ke atmosfer dalam bentuk gas CO2.
Hutan kota juga dapat mengurangi terjadinya polusi udara melalui tanaman dan vegetasinya. Hal ini dapat terjadi melalui stomata pada daun yang dapat menyerap udara yang mengandung polutan beracun seperti SO2, NO2, CO, dan ozon. Ketika polutan masuk ke dalam daun, gas-gas tersebut bergerak ke dalam ruang antar sel dan dapat bereaksi dengan permukaan di dalam daun. Hal ini dapat membantu membersihkan udara karena menunjukkan bahwa polutan yang masuk itu mengalami perubahan di dalam daun sehingga tidak berbentuk polutan lagi. Dengan menyediakan udara yang lebih bersih dan mengurangi polusi udara, hutan kota membantu meningkatkan kualitas udara perkotaan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengurangi dampak penyakit pernapasan.
Selain berperan dalam penurunan emisi, keberadaan hutan kota juga memiliki manfaat lain. Salah satunya adalah hutan kota dapat membantu dalam pengendalian erosi dan banjir. Hal ini dapat terjadi karena vegetasi di hutan kota dapat membantu menyerap air hujan, meredam aliran air, dan menjaga stabilitas tanah. Selain itu, hutan kota juga dapat digunakan sebagai salah satu opsi rekreasi. Hutan kota menyediakan ruang terbuka hijau untuk aktivitas rekreasi seperti berjalan, bersepeda, piknik, dan olahraga. Hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental penduduk perkotaan dan menciptakan ruang interaksi sosial.
Secara keseluruhan, hutan kota memiliki peran yang sangat penting dalam upaya global untuk mengurangi emisi karbon di perkotaan. Dengan menyediakan area hijau yang memadai di tengah kota-kota besar, hutan kota tidak hanya membantu menyerap karbon dan mengurangi polusi udara, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Untuk mengoptimalkan manfaatnya, diperlukan kerjasama dan komitmen dari semua pihak (pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dsb) untuk memperluas serta merawat hutan kota sebagai sebuah aset berharga bagi sebuah kota.
