
Pemilihan Presiden 2024 menjadi momen penting bagi Indonesia. Calon presiden memiliki tanggung jawab besar, salah satunya untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan memastikan keberlanjutan energi. Salah satu isu yang menarik perhatian adalah komitmen tentang energi terbarukan. Dalam hal ini, kita akan mempertanyakan komitmen Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka terhadap sektor energi terbarukan jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Apakah janjinya akan betul ditepati atau hanya retorika politik saja?
Pasangan capres dan cawapres Prabowo-Gibran menempatkan isu energi pada misi nomor dua mereka. Visinya, memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Ia bahkan memerintahkan Universitas Pertahanan untuk membuat program studi pertama di Indonesia tentang ilmu hidrologi dan ilmu air. Namun, apakah komitmen ini akan diwujudkan?
Prabowo Subianto, sebagai salah satu calon presiden, telah menyampaikan beberapa pandangannya tentang energi terbarukan. Namun, kita perlu memahami lebih dalam apa yang sebenarnya dijanjikan olehnya.[↗]
- Mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menjadikan Indonesia sebagai raja energi hijau dunia (super power) dalam bidang energi baru dan terbarukan (renewables) serta energi berbasis bahan baku nabati (bioenergy).
- Mengembalikan tata kelola migas dan pertambangan nasional sesuai amanat Konstitusi, terutama Pasal 33 UUD 1945.
- Memperbaiki skema insentif untuk mendorong aktivitas temuan cadangan sumber energi baru untuk meningkatkan ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
- Keempat, merevisi semua tata aturan yang menghambat untuk meningkatkan investasi baru di sektor energi baru dan terbarukan (EBT).
- Mendirikan kilang minyak bumi, pabrik etanol, serta infrastruktur terminal penerima gas dan jaringan transmisi/distribusi gas, baik oleh BUMN atau swasta.
- Memperluas konversi BBM kepada gas dan listrik untuk kendaraan bermotor. Meningkatkan dan menambah porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran listrik PLN.
- Melanjutkan dan mengevaluasi pengembangan kawasan ekonomi khusus yang terspesialisasi dengan mengedepankan ekonomi hijau dan/atau ekonomi biru.
Jika kita rangkum, setidaknya ada tiga poin utama dalam janji Prabowo-Gibran untuk energi terbarukan yang akan dilaksanakan jika terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2024-2029, yakni :
- Biofuel dan Pertanian: Prabowo berbicara tentang meningkatkan penggunaan biofuel dari bahan bakar nabati seperti sawit, jagung, dan tebu. Namun, menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira,[↗] harus ada integrasi dari kebijakan tersebut agar jangan sampai saling meniadakan dan membingungkan perencanaan. Sebab, menurut dia, langkah itu juga akan membuat bingung perencanaan pihak industri, terutama pabrikan kendaraan bermotor, suku cadang, dan bengkel-bengkel masyarakat. Meskipun Indonesia telah menggunakan biodiesel, bioavtur, dan bioetanol, penggunaan bahan bakar ini masih dalam tahap awal. Selain itu, biofuel belum kompetitif secara harga dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
- Ketahanan Energi: Prabowo menekankan pentingnya ketahanan dan swasembada di negeri sendiri. Ia berpendapat bahwa Indonesia harus memproduksi makanan dan energi sendiri. Prabowo Subianto sebelumnya berjanji akan menyetop impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jika terpilih pada Pilpres 2024. Menurutnya, upaya itu akan dilakukan dengan menggenjot swasembada energi domestik dengan memproduksi BBM berbahan baku biofuel. Prabowo mengatakan kebutuhan solar nantinya bisa dipenuhi dari kelapa sawit. Kemudian bensin katanya bisa 100 persen berasal dari tebu.
- Melanjutkan Program Jokowi: Prabowo juga berkomitmen untuk melanjutkan kebijakan dan program yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Padahal kita tahu, pemerintah Era Jokowi sangat masif membangun PLTU batu bara di tengah membludaknya pasokan listrik di pulau Jawa dan Bali. Apalagi dalam rencana Dewan Energi Nasional, angka target bauran energi terbarukan Indonesia tahun 2025 diturunkan yang semula 23 persen menjadi hanya 17-19 persen. Bagaimana mungkin hal ini selaras dengan janji mewujudkan Indonesia sebagai raja energi hijau dunia?
Komitmen terhadap energi terbarukan diharapkan bukanlah hanya sekadar retorika. Diperlukan langkah konkret dan keseriusan pemerintah mendatang serta pihak terkait. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Regulasi yang Mendukung: Prabowo harus memastikan adanya regulasi yang mendukung pengembangan energi terbarukan. Ini termasuk insentif bagi investasi di sektor ini dan kebijakan yang memudahkan akses ke teknologi terbaru.
- Investasi dalam Riset dan Pengembangan: Pengembangan energi terbarukan memerlukan investasi dalam riset dan pengembangan. Prabowo harus memastikan ada alokasi anggaran yang memadai untuk menggali potensi energi terbarukan di Indonesia.
- Kolaborasi dengan Swasta: Swasta memiliki peran kunci dalam pengembangan energi terbarukan. Prabowo harus membangun kerjasama yang kuat dengan sektor swasta untuk mempercepat adopsi teknologi dan investasi.
Komitmen Prabowo terhadap energi terbarukan tampak optimis, tetapi tantangan nyata harus diatasi. Pengembangan infrastruktur dan regulasi yang mendukung adalah kunci keberhasilan. Semoga pemimpin masa depan dapat memastikan keberlanjutan energi dan lingkungan yang lebih baik bagi Indonesia.
Sumber :
