Bulan lalu (Mei, 2024), sejumlah wilayah di Asia Tenggara mengalami heatwave yang cukup parah. Heatwave adalah cuaca panas yang tidak biasa atau ekstrem, yang berlangsung selama beberapa hari hingga minggu. Selama heatwave, suhu udara secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata normal dalam suatu wilayah.  

Sumber: Channel News Asia (link)

Di heatwave kali ini, Kamboja mencapai suhu 43°C, yakni suhu terpanas dalam 170 tahun terakhir di negara tersebut. Saking panasnya, banyak sekolah di Kamboja sampai mengurangi jam belajarnya. Selain itu, beberapa kota di Myanmar tercatat sebagai lokasi dengan suhu tertinggi di dunia, dengan suhu yang sempat mencapai 48,2°C. Sementara di Bangkok, Thailand, suhunya mencapai 40°C, dengan sensasi yang terasa lebih panas, hampir mencapai 50°C, karena sengatan panas yang terjebak di antara struktur bangunan. Tiga puluh orang di Thailand bahkan telah meninggal akibat sengatan panas dalam sebulan terakhir. 

Kejadian ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia dan peristiwa alami El Niño. Fenomena ini mengakibatkan peningkatan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh wilayah tersebut. 

Tahukah anda, bahwa kedua faktor penyebab heatwave ini saling berhubungan? Emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia dapat menyebabkan kejadian El Niño dan La Niña lebih sering terjadi secara intens. Namun sebelum membahas hal tersebut, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kedua peristiwa alam El Nino dan La Nina ini? 

El Niño dan La Niña adalah bagian dari El Niño-Southern Oscillation (ENSO), salah satu osilasi iklim alami di Samudra Pasifik yang dampaknya signifikan pada cuaca global. Osilasi, yang berarti berayun, dalam istilah iklim adalah fenomena saat suhu permukaan laut dan arah angin di daerah tengah dan timur Samudra Pasifik berfluktuasi dalam periode tertentu. 

Dalam istilah ilmu iklim saat ini, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator bagian timur dan tengah yang lebih panas dari normalnya. Sementara suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya. Saat El Nino terjadi, daerah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah sehingga menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia. Dampak El Niño dapat berupa kekeringan di beberapa wilayah, banjir di tempat lain, dan bahkan badai tropis yang lebih intens. Aktivitas ini memberikan contoh nyata bagaimana interaksi antara atmosfer dan lautan dapat mengubah dinamika iklim secara global. 

La Niña, di sisi lain, adalah kebalikan dari El Niño. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah yang sama menjadi lebih dingin dari biasanya. La Niña cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan di beberapa wilayah, bersamaan dengan peningkatan aktivitas badai tropis di wilayah tertentu. Kondisi ini dapat menyebabkan banjir, tanah longsor, dan gangguan lainnya.

Lalu bagaimana hubungan antara El Nino, La Nina, dan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia? 

Intensitas peristiwa dan frekuensi El Nino dan La Nina sebenarnya cukup bervariasi, sehingga sulit untuk menentukan hubungan dan kekuatannya secara langsung dengan perubahan iklim. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanasan global dapat menyebabkan kejadian El Nino yang lebih intens. Menurut Cai (2023) dalam publikasinya yang berjudul “Dampak Antropogenik pada Perubahan Variabilitas ENSO di Abad ke-20”, suhu permukaan laut yang ekstrim saat ini yang disebabkan oleh El Nino telah meningkat sekitar 10% dibandingkan dengan tingkat sebelum tahun 1960. Hal ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang memprediksi bahwa frekuensi kejadian El Nino ekstrem dapat meningkat dua kali lipat hingga abad selanjutnya karena pemanasan Samudra Pasifik bagian timur yang lebih cepat akibat kenaikan suhu global. 

Para ilmuwan percaya bahwa perubahan iklim dan El Nino dapat saling memperkuat dampak satu sama lain. Hal ini dapat menyebabkan cuaca yang lebih ekstrem dan suhu global yang lebih tinggi, yang kemudian akan memperparah kondisi cuaca dan memicu terjadinya bencana. Hal ini didukung oleh kejadian El Nino yang cukup intens pada tahun 2015/2016 yang mengakibatkan kekeringan yang meluas, kebakaran hutan, banjir, dan gangguan pertanian, yang menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil di beberapa wilayah. Dampak ekstrim dari El Niño tersebut secara luas kemudian dikaitkan dengan pemanasan global yang sedang berlangsung yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil.

Beberapa penelitian ilmiah telah menunjukkan efek pemanasan global yang dapat memperkuat dan memperpanjang kejadian El Niño dan La Niña serta meningkatkan dampak yang mungkin terjadi. Kombinasi antara faktor alami dan manusia ini menjadikan perubahan iklim sebagai tantangan yang semakin mendesak untuk diatasi. Maka dari itu, perlu dilakukan langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperkuat adaptasi terhadap perubahan iklim untuk menjaga keberlanjutan lingkungan hidup kita. 

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan El Niño, La Niña, dan perubahan iklim, kita dapat mengambil tindakan nyata untuk melindungi planet dan masyarakat dari dampak negatif yang mungkin timbul.

Author

Leave a Comment