Para Peserta bersama dengan narasumber dan moderator berpose SustainergyX! Ekspresikan Diri dengan Energi Terbarukan pada seminar Transportasi Berkelanjutan yang dibawakan oleh CEO Amérta Waste Solution, Alryan.

Sabtu(20/07/2024) Sebanyak 200 orang menghadiri kegiatan SustainergyX yang diadakan oleh Generasi Energi Bersih Indonesia berlokasi di Creative Space, Mbloc Space, Jakarta Selatan. Pemenuhan Komitmen Net Zero Indonesia pada tahun 2060 tidak akan terlaksana apabila bauran energi terbarukan tidak didorong peningkatannya dengan sungguh-sungguh oleh seluruh elemen masyarakat. Peranan penting tidak hanya diampu oleh pemerintah seorang diri, tetapi peran masyarakat umum, pekerja swasta, pengusaha, mahasiswa, pelajar, guru, dosen, dan kaum muda secara keseluruhan menjadi sangat penting di sini. Ruang diskusi, mencari sumber informasi yang akurat dan kredibel serta akses terhadap pengetahuan dan pengembangan baru tentang energi terbarukan sangatlah penting untuk bisa didapatkan oleh kaum muda. Demi mendorong terwujudnya pemenuhan akses informasi dan pengembangan terbaru terkait energi terbarukan Generasi Energi Bersih Indonesia membuat kegiatan SustainergyX (Sustainable Energy for Excellence) kegiatan ini adalah sebuah rangkaian kegiatan selama 2 hari yang mencakup seminar, workshop PLTS & PLTB, serta booth transisi energi. Fokus isu transisi energi seperti sektor ketenagalistrikan, bangunan hijau, transportasi berkelanjutan hingga ekonomi sirkular, dan industri hijau menjadi hal utama dalam pembahasan kegiatan ini.

Sosialisasi Pengolahan Sampah Non-Organik dan Potensi Ekonomi Sirkular disampaikan oleh Alryan sebagai CEO Amérta Waste Solution dalam booth Sektor Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular di SustainergyX 

Menurut data Climate Watch, tahun 2020 Indonesia menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,48 miliar ton/gigaton ekuivalen karbon dioksida (Gt CO2e). Angka itu setara dengan 3,1% dari emisi gas rumah kaca global, yang total volumenya mencapai 47,5 Gt CO2e. Kendati angka persentasenya kecil, emisi gas rumah kaca Indonesia pada 2020 merupakan yang terbesar ke-6 di dunia setelah Tiongkok, Amerika Serikat, India, Uni Eropa, dan Rusia. Jika dirinci sumbernya, pada 2020 emisi gas rumah kaca nasional paling berasal dari sektor energi (44%), penggunaan lahan/hutan (34%), diikuti sektor pertanian (10%), sampah (9,4%), serta proses industri (2,3%). Sedangkan di tingkat global, emisi gas rumah kaca dari sektor energi jauh lebih dominan (75%), beberapa kali lipat dibanding sektor pertanian (12%), proses industri (6,6%), sampah (3,5%), dan penggunaan lahan/hutan (2,9%) (katadata, 2023). Sampah menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia karena pengelolaannya yang sangat tidak diprioritaskan oleh pemerintah. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan Buku Kontribusi Sampah Terhadap Pemanasan Global yang didalamnya terdapat selayang pandang tentang waste to energy dan green consumer sebagai upaya untuk mengelola gas metana yang dihasilkan oleh sampah organik dan penumpukan yang dihasilkan oleh sampah non-organik. Amérta Waste Solution juga mengedepankan kedua hal tersebut dalam lini produksinya. Eco Plakat, Eco Furniture, PET Flakes menjadi produk unggulan yang diproduksi oleh Amérta Waste Solution. Komitmen Amérta dalam menjadikan bumi yang lebih hijau dan lestari tergambarkan dengan jelas dalam booth yang di pasang di SustainergyX booth edukasi pemilahan sampah dan produk daur ulang dari sampah hingga pengolahan minyak jelantah menjadi bukti komitmen Amérta Waste Solution. 

Temon Sujana, CEO Solar Energy Power menjelaskan komponen PLTS hingga bisa mengkonversi energi matahari untuk menyalakan lampu 5 watt dari training kit miliknya 

Setelah mengetahui hal tersebut, aksi yang dapat kita lakukan adalah sebisa mungkin kurangi produksi emisi harian pribadi dari penggunaan listrik berlebihan, sampai dengan beralih menggunakan transportasi umum atau kendaraan listrik. Namun, kita sebagai  kaum muda juga dapat mempelajari lebih jauh bagaimana penggunaan energi terbarukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu caranya dengan mengikuti Workshop Sustainergy X 2024. Workshop ini diselenggarakan dalam 2 hari. Hari pertama telah membahas cara kerja PLTS yang diilustrasikan menggerakkan baling-baling helikopter mini. Pada hari ke-2 workshop membahas PLTB untuk menyalakan lampu LED. Kedua workshop ini bertujuan mendorong ketertarikan anak muda untuk bisa mengimplementasikan energi terbarukan dalam kehidupannya sehari-hari. Pemanfaatan energi matahari dan energi angin bisa cukup terasa manfaatnya apabila kita mengetahui cara kerja dan komponen pendukungnya dengan baik. Isu ketenagalistrikan juga dibahas lebih mendalam pada seminar yang disampaikan oleh Dosen Teknik Elektro Universitas Singaparbangsa Karawang Dr. Yuliarman Saragih, yang membahas bagaimana mahasiswa bisa mahir dalam pemasangan PLTS atap yang diterapkan dalam berbagai project implementasi seperti magang dan KKN. Kurikulum yang berfokus pada penerapan energi terbarukan seperti inilah yang seharusnya dapat dikembangkan oleh seluruh lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi seperti yang telah dicontohkan dalam kurikulum Universitas Singaperbangsa Karawang. Seminar kedua terkait dengan industri hijau yang waktunya berjalan bersamaan dengan seminar pertama disampaikan oleh Riza Egi Arizona sebagai Program Assistant Bioenergi Madani Berkelanjutan. Riza memaparkan bagaimana bioenergi bisa menjadi opsi dari permasalahan emisi dan ketergantungan Indonesia akan bahan bakar fosil yang harganya sangat mahal bahkan sering di salah gunakan oleh oknum masyarakat untuk ditimbun atau diborong dengan penggunaan yang tidak tepat sasaran di daerah 3T seperti di Kapuas Hulu. 

Seminar ketiga disampaikan oleh Alryan selaku CEO dari PT Amérta Waste Solutions. Ia bercerita bagaimana perusahaannya bisa mengelola sampah dengan baik dan mendaur ulang sampah plastik menjadi barang yang lebih bernilai untuk banyak orang. Bangku, meja, asbak, bahkan padanan fashion bisa dihasilkan dari daur ulang sampah kemasan sekali pakai. Seminar keempat adalah dari Sekretaris Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Adrianus Satrio. Adrian menceritakan bagaimana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui BUMD Transportasi seperti Transjakarta, MRT, LRT, dan Mikrotrans berupaya mengurangi produksi emisi karbon melalui penggunaan kendaraan listrik dan jalur sepeda serta integrasi antar moda yang sangat diharapkan dapat menumbuhkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum yang rendah emisi. Seminar kelima disampaikan oleh Delilah Ivo sebagai Marketing Executive dari Priztins Indonesia, sebuah perusahaan yang berfokus pada inovasi bangunan hijau. Ia menjelaskan dan menunjukkan komponen green building seperti Sunshield Film dan Anti-Thermal Glass. Sunshield Film merupakan kaca film untuk rumah dan bangunan yang dapat menangkal hingga 90% sinar Infrared dan menurunkan hingga 14,5% energi sistem pendinginan. Sedangkan Anti-Thermal Glass merupakan kaca anti panas tipis untuk rumah dan bangunan dengan tingkat visibilitas hingga 67% yang bisa menangkal hingga 94% sinar infrared.  

Bentuk kolaborasi kegiatan berikutnya adalah Booth Eksibisi Transisi Energi yang diisi oleh Amérta Waste Solution untuk sektor Ekonomi Sirkular, PT Solar Energy Power dari sektor ketenagalistrikan, Priztins Indonesia dari Sektor Bangunan Hijau, & Madani Berkelanjutan pada sektor Industri Hijau.

Author

One Comment

reyhan, Jan 20, 2025

thanks a lot of information keren

Leave a Comment