
Tahun 2024 hampir selesai, dan ini waktu yang pas untuk melihat kembali perjalanan kita di bidang energi dan iklim. Perjalanan ini penuh warna—kadang bikin optimis, kadang bikin mikir keras soal masa depan. Jadi, mari kita kilas balik, melihat apa yang sudah terjadi, tantangan yang kita hadapi, dan apa yang bisa kita lakukan untuk melangkah lebih jauh.
Dimulai dari dinamika global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eurasia sempat memengaruhi pasokan energi dunia. Meski begitu, Indonesia tetap mampu menjaga ritmenya, meskipun masih bergantung pada batu bara. Hingga saat ini, sekitar 90% konsumsi energi kita masih berasal dari bahan bakar fosil. Bayangkan, sebesar itu ketergantungan kita! Tapi, ini juga jadi pengingat bahwa transisi energi adalah pekerjaan besar yang butuh fokus dan kerja sama semua pihak.
Kita lanjut ke sektor industri, yang mencatatkan kenaikan konsumsi energi sebesar 9% sepanjang tahun 2023. Ini kabar baik bagi perekonomian, tapi ada sisi lain yang nggak bisa kita abaikan. Emisi karbon dari sektor ini mencapai 460 juta ton CO₂, dan untuk menanganinya diperkirakan butuh biaya fantastis: USD 341 juta. Rasanya jelas kalau inovasi energi bersih bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Dari industri, kita beralih ke transportasi. Sektor ini juga punya cerita menarik. Di Indonesia, sepeda motor masih jadi raja jalanan dengan 454 unit per 1.000 orang, sementara mobil ada di angka 62 unit per 1.000 orang. Tapi, kendaraan bermotor ini juga jadi penyumbang terbesar emisi sektor transportasi, mencapai 55%. Kendaraan listrik mulai jadi sorotan, tapi transformasi besar seperti ini jelas nggak bisa terjadi dalam semalam.
Rumah tangga juga nggak kalah menarik untuk disorot. Hampir 87% rumah tangga di Indonesia masih bergantung pada LPG untuk kebutuhan sehari-hari, dengan subsidi yang diperkirakan mencapai Rp83 triliun di tahun 2024. Ini angka yang luar biasa besar, dan menunjukkan bahwa energi terbarukan perlu lebih banyak hadir di level rumah tangga. Langkah kecil seperti menggunakan peralatan hemat energi atau mencoba alternatif energi bisa jadi awal yang baik.
Sementara itu, sektor ketenagalistrikan juga menghadapi tantangan yang serupa. Di tahun 2023, emisi dari pembangkit listrik berbahan fosil mencapai 287 juta ton CO₂. Meski begitu, ada kabar baik—rencana menambah kapasitas energi terbarukan hingga 13,3 GW menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang benar. Langit yang lebih bersih mungkin terasa seperti mimpi, tapi dengan langkah konsisten, mimpi itu bisa jadi kenyataan.
Upaya untuk meningkatkan produksi bahan bakar nabati juga jadi salah satu sorotan tahun ini. Namun, tantangan seperti ketersediaan lahan dan infrastruktur masih jadi hambatan besar. Di sisi lain, pemerintah daerah terus bergerak dengan target-target ambisius mereka. Aceh, misalnya, menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 14% di tahun 2025, meskipun realisasinya saat ini baru menyentuh angka 11,08%. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan, perjalanan masih panjang dan butuh dukungan banyak pihak.
Akhirnya, pembiayaan transisi energi menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Dengan target pengurangan emisi sektor energi sebesar 29% di tahun 2030, kebutuhan investasi mencapai USD 246 miliar. Angka yang besar, tapi ini adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Menutup perjalanan ini, kita diingatkan bahwa tantangan yang ada bukan alasan untuk menyerah, tapi justru alasan untuk bergerak lebih cepat. Langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari ini bisa membawa perubahan besar di masa depan. Jadi, bagaimana kita akan berkontribusi? Perjalanan belum selesai, dan kita semua punya peran untuk dimainkan. Yuk, bersama-sama wujudkan masa depan hijau Indonesia!
