Total nilai ekspor mengalami penurunan bertahap dari 25 miliar dolar AS pada tahun 2012 hingga mencapai titik terendah sebesar sekitar 14.000 juta dolar AS pada tahun 2016. Setelah sedikit peningkatan pada tahun 2018 dengan nilai ekspor mencapai 20.000 juta dolar AS, ekspor kembali menurun pada tahun 2020 menjadi sekitar 13.000 juta dolar AS, kemungkinan besar akibat pandemi COVID-19 yang berdampak pada permintaan energi global.

Namun, mulai tahun 2021, terjadi lonjakan signifikan dalam nilai ekspor batu bara, dengan kenaikan tajam hingga mencapai puncak tertinggi pada tahun 2022 sebesar 45.000 juta dolar AS. Lonjakan ini kemungkinan besar didorong oleh meningkatnya permintaan energi global pasca-pandemi dan kenaikan harga komoditas batu bara di pasar internasional.

Secara spesifik, negara tujuan dengan nilai ekspor tertinggi pada tahun 2022 adalah India, dengan nilai ekspor sebesar 10.594,9 juta dolar AS, diikuti oleh Tiongkok dengan 7.795,2 juta dolar AS dan Jepang dengan 7.174,7 juta dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa India menjadi pasar terbesar untuk batu bara Indonesia pada tahun 2022, kemungkinan karena ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara sebagai sumber energi utama. Insight ini menggarisbawahi pentingnya pasar India, Tiongkok, dan Jepang bagi ekspor batu bara Indonesia, yang sebaiknya terus dimonitor untuk menjaga stabilitas nilai ekspor di masa mendatang serta keselarasannya dengan agenda transisi energi Indonesia.