Sektor energi ditargetkan berkontribusi mengurangi emisi 11%. Kontribusi masyarakat dalam mengurangi emisi amat diharapkan untuk bisa mencapai target tersebut. Mengutip data Kementerian ESDM, Rizal memaparkan konsumsi energi di sektor transportasi pada 2007 sebesar 29% meningkat menjadi 47% pada 2017. Pada 2016, sektor transportasi tercatat menghasilkan emisi sebanyak 1,28 juta ton CO2 dengan rata-rata peningkatan 6,7% per tahun. Peningkatan emisi tersebut lebih besar 1,5 kali lipat dari konsumsi bahan bakarnya.
Sebagian besar perjalanan yang dilakukan setiap tahun adalah untuk liburan, mengunjungi saudara atau teman, menghadiri acara olahraga atau pentas seni, serta perjalanan pulang pergi dan perjalanan untuk tujuan kerja atau bisnis. Mobil adalah moda transportasi yang paling umum dari jenis perjalanan. Perjalanan merupakan aspek penting dari kegiatan sehari-hari dan kebiasaan sehari-hari sering bergantung pada transportasi yang tersedia, apakah seseorang menyadarinya atau tidak. Baik itu melalui pembelian jenis kendaraan baru, beralih ke berbagai transportasi yang lebih besar untuk meningkatkan pemanfaatan efisiensi kapasitas kendaraan atau menggunakan layanan ride-hailing Perubahan perilaku tersebut akan menjadi aspek penting dari proses dekarbonisasi sektor transportasi. Sementara pemahaman tentang apa yang akan mendorong perubahan perilaku haruslah ada, dimana pemahaman ini berkaitan tidak hanya kemampuan individu dalam melakukan mobilisasi, tetapi juga faktor emisi yang dihasilkan dari kegiatan perpindahan yang dilakukan. Pemahaman yang lebih besar tentang hal ini di tingkat sistem transportasi akan membantu mendukung seseorang untuk berubah ke pilihan perjalanan yang lebih rendah karbon.
Cara pertama dan sederhana yang bisa lakukan untuk mengurangi emisi GRK adalah dengan naik transportasi umum. Jika banyak yang beralih ke transportasi umum, berarti jalanan tidak akan penuh sesak oleh kendaraan pribadi dan pemerintah tidak perlu melebarkan jalan atau mengorbankan trotoar. Individu yang ingin beralih ke transportasi umum pun punya banyak pilihan moda, misalnya di Jakarta ada Moda Raya Terpadu atau MRT yang menghasilkan 76% lebih sedikit emisi atau nantinya LRT Jakarta yang menghasilkan 62% lebih sedikit emisi. Bahkan dalam waktu dekat akan ada bus listrik yang tidak menghasilkan emisi sama sekali di jalanan Jakarta. Kemudian, cara kedua adalah dengan melakukan uji emisi untuk kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua, untuk membantu mengurangi polusi di Jakarta. Pengujian ini bertujuan untuk meminimalisasi GRK dan udara berbahaya yang dihasilkan dari mesin kendaraan bermotor. Jika jumlah kendaraan punya emisi gas buang yang rendah, maka udara akan jadi lebih baik. Selain beralih ke transportasi umum dan uji emisi gas buang kendaraan, cara lain yang bisa juga dilakukan adalah dengan mengendarai sepeda atau berjalan kaki. Di kota-kota besar Indonesia, trotoar sudah banyak direvitalisasi menjadi lebih bagus dan nyaman untuk dilewati. Kadang sudah dilengkapi jalur khusus sepeda. Aksi naik sepeda atau jalan kaki sama-sama memiliki manfaat bagi kesehatan dan lingkungan. Dalam ranah lingkungan, bersepeda sejauh 10 kilometer ke kantor bisa mengurangi 1.500 kgCO2 tiap tahun dan pastinya akan mengurangi kemacetan. Manfaat lainnya tentu saja seseorang dapat menikmati lingkungannya lebih dekat dan lebih banyak bersosialisasi.
Car pooling atau berbagi kendaraan juga bisa menjadi solusi untuk pengurangan emisi GRK dari sektor transportasi. Usahakan melakukan perjalanan dengan banyak orang yang satu tujuan atau searah dengan rute kita. Selain tidak kesepian selama perjalanan, car pooling juga meningkatkan interaksi sosial antar individu. Jika individu tersebut sering berpergian menggunakan transportasi jarak jauh, mungkin bisa dimulai untuk mengurangi frekuensi perjalanannya, menggunakan kelas ekonomi, dan hanya memilih rute perjalanan singkat untuk membantu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan berkontribusi dalam menurunkan emisi GRK.
