Berdasarkan International Air Transport Association (IATA), penerbangan menyumbang sekitar 2% dari emisi karbon global dunia. IATA memprediksi jumlah penumpang akan berlipat ganda menjadi 8,2 miliar pada tahun 2037. Namun, aktivitas pariwisata secara keseluruhan termasuk perjalanan ke tujuan dan aktivitas perjalanan di lokasi mewakili 4,4% dari emisi CO2 global pada tahun 2005 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 3,3% yang diperkirakan hingga tahun 2035. Penerbangan menghasilkan emisi GRK, terutama karbon dioksida (CO2) dari pembakaran bahan bakar. Hasil pembakaran tersebut berkontribusi pada pemanasan global ketika dilepaskan ke atmosfer. Sebagai contoh, berdasarkan kalkulator dari International Council Aviation Organization (ICAO), penerbangan pulang pergi kelas ekonomi dari London ke New York mengeluarkan sekitar 0,67 ton CO2 per penumpang.
Jejak karbon perjalanan udara cenderung bervariasi secara sistematis dan kuat antara kelas perjalanan (ekonomi dan bisnis). Jejak karbon rata-rata jauh lebih tinggi untuk perjalanan kelas bisnis daripada untuk perjalanan kelas ekonomi. Bahkan lebih tinggi untuk perjalanan kelas satu (jika ada). Alasan utama mengapa jejak karbon per individu per jarak yang ditempuh lebih besar untuk kelas bisnis daripada kelas ekonomi adalah karena kursi di dua kelas sebelumnya membutuhkan ruang lantai yang lebih besar daripada rata-rata di pesawat tertentu. Perbedaan ini dapat ditingkatkan dengan perbedaan faktor beban, tingkat di mana kursi yang tersedia benar-benar ditempati pada penerbangan tertentu, yang juga cenderung lebih rendah rata-rata di kelas bisnis. Sehingga semakin besar ruang lantai per kursi dan semakin sedikit di antara kursi yang tersedia yang terisi memiliki efek bahwa jumlah rata-rata penumpang yang diangkut per unit ruang lantai jauh lebih kecil untuk pesawat kelas bisnis.
Faktor utama kedua adalah konsumsi bahan bakar pesawat. Jejak karbon per kilometer untuk perjalanan udara cenderung bervariasi yang didukung beberapa faktor khusus penerbangan lain seperti panjang penerbangan rata-rata, jenis pesawat yang digunakan, dan lainnya. Ada juga perbedaan yang signifikan dalam konsumsi bahan bakar per penumpang antara jenis dan model pesawat yang dipengaruhi oleh faktor beban, persentase kursi yang tersedia yang terisi pada penerbangan tertentu. Emisi CO2 per kilometer penumpang lebih tinggi untuk penerbangan domestik daripada penerbangan internasional jarak pendek, dan penerbangan jarak jauh masih sedikit lebih rendah. Intensitas karbon (gram CO2 per kilometer penumpang) bervariasi tergantung pada jarak penerbangan. Hal ini menunjukkan bahwa pada jarak terbang yang sangat pendek/dekat (kurang dari 1.000 km), intensitas karbon sangat tinggi, berbeda dengan jarak sekitar 1.500 hingga 2.000 km yang semakin sedikit. Kemudian semakin jauh jarak tempuh penerbangan maka perubahan intensitas karbon semakinsedikit. Ternyata hal ini disebabkan lepas landas membutuhkan lebih banyak input energi daripada fase penerbangan di udara. Jadi, untuk penerbangan yang sangat singkat, bahan bakar ekstra yang dibutuhkan untuk lepas landas ini cukup besar dibandingkan dengan fase perjalanan yang lebih efisien. International Council on Clean Transportation (ICCT) juga mencatat bahwa seringkali pesawat yang kurang hemat bahan bakar digunakan untuk penerbangan jarak dekat.
Faktor kelas, jenis transportasi dan jarak perjalanan tidak hanya berlaku untuk penerbangan saja, tetapi juga pada perjalanan darat dengan menggunakan bis dan kereta api. Kereta diesel memancarkan lebih dari 90gCO2 per penumpang per kilometer, dibandingkan dengan sekitar 45g untuk kereta api listrik dalam kota.
