Di era saat ini yang semakin maju dan serba modern, kehadiran listrik sudah menjadi kebutuhan primer kehidupan manusia. Segala kelengkapan kebutuhan hidup kini tak lepas dari penggunaan energi listrik, bahkan di tempat tinggal dalam usaha menciptakan suasana nyaman. Kehadiran pendingin ruangan (AC) dalam rumah tinggal, terutama di daerah tropis, untuk wilayah perkotaan dibutuhkan untuk kenyamanan termal dan kenyamanan akustik (meredam bising disekitar rumah tinggal). Ada lebih dari 1 miliar unit AC ruangan secara global saat ini, sekitar satu untuk setiap tujuh orang di bumi. Dua jenis AC yang paling umum adalah AC ruangan dan AC sentral. Diprediksikan bahwa pada tahun 2050 kemungkinan ada lebih dari 4,5 miliar, menjadikannya ada di mana-mana seperti ponsel saat ini. IEA memproyeksikan bahwa ketika seluruh dunia mencapai tingkat yang sama, AC akan menggunakan sekitar 13% dari seluruh listrik di seluruh global, dan menghasilkan 2 miliar ton CO2 per tahun. Semakin panas dan semakin makmur suatu daerah maka semakin banyak rumah tinggal yang menggunakan AC.
Penggunaan AC terus meningkat di negara-negara ASEAN, dimana merupakan daerah terpanas di permukaan bumi. Penggunaan energi untuk AC di negara-negara ASEAN meningkat 7,5 kali lipat selama 30 tahun. Pada saat yang sama, kepemilikan AC di wilayah ini tetap rendah. Hanya 15% rumah tangga di negara-negara ASEAN yang memiliki AC, dibandingkan dengan lebih dari 90% rumah tangga di beberapa negara maju. Ada juga perbedaan besar dalam kepemilikan di seluruh wilayah, dengan hampir 80% rumah tangga di Singapura dan Malaysia memiliki AC, dibandingkan dengan kurang dari 10% di Indonesia, Filipina, dan Vietnam.
AC menggunakan prinsip pengoperasian dan komponen dasar yang sama dengan lemari pendingin atau kulkas di rumah. Kulkas menggunakan energi listrik untuk memindahkan panas dari bagian dalam kulkas yang dingin ke lingkungan yang relatif hangat di rumah. Demikian pula dengan AC yang menggunakan energi untuk mentransfer panas dari ruangan di dalam rumah ke lingkungan luar yang relatif hangat. Terdapat sebuah pompa yang disebut kompresor, memindahkan fluida atau refrigeran (mengandung panas yang dipindahkan) antara evaporator dan kondensor. Refrigeran cair menguap di koil evaporator dalam ruangan, menarik panas keluar dari udara dalam ruangan dan mendinginkan rumah. Disebabkan perbedaan temperatur, maka udara dikompresor panas dan mengeluarkan tetesan air.
Sepanjang paruh kedua abad ke-20, hampir semua pendingin ruangan menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai zat pendinginnya, tetapi karena bahan kimia ini merusak lapisan ozon bumi, produksi CFC dihentikan. Hampir semua sistem pendingin udara sekarang menggunakan halogenasi chlorofluorocarbons (HCFCs) sebagai pendingin. HCFC terbaru, HCFC-22 (juga disebut R-22), mulai dihapus secara bertahap pada tahun 2010 dan dihentikan seluruhnya pada tahun 2020. Saat refrigeran ini dihapus, hidrofluorokarbon (HFC) yang aman untuk ozon diperkirakan akan mendominasi pasar, serta refrigeran alternatif seperti amonia.
Tingkat kenyamanan suhu ruangan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori diambil dari standar SNI (standar nasional Indonesia) yaitu:
- Sejuk nyaman 20,8oC – 22,8oC
- Nyaman optimal 22,8oC – 25,8oC
- Hangat nyaman 25,8oC – 27,1oC
AC merupakan salah satu alat elektronik yang penggunaan energi listriknya cukup besar. Penggunaan AC yang tidak bijak dapat membebani pengeluaran biaya listrik yang cukup besar. Kelalaian dalam mematikan AC yang sudah tidak digunakan menimbulkan pemborosan listrik dan biaya tagihan listrik. Pendingin ruangan seperti Air Conditioner (AC) dan pemanas ruangan seperti heater merupakan jenis peralatan rumah tangga yang memakan banyak energi listrik. Namun, jarang masyarakat Indonesia menggunakan heater karena kondisi iklim yang tropis. Sejak tahun 2017, Pemerintah melalui Kementerian ESDM sudah menetapkan Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM) dan Pencantuman Label Tanda Hemat Energi untuk AC. SKEM merupakan standar untuk membatasi jumlah konsumsi energi maksimum dari AC tersebut, dan label tanda hemat energi menunjukkan bahwa perlatan listrik tersebut telah memenuhi syarat hemat energi tertentu. Saat ini sudah banyak dijual AC berteknologi inverter untuk menghemat energi. Berbeda dengan AC konvensional, AC inverter dilengkapi dengan kompresor yang tidak mati-nyala apabila sudah mencapai kondisi ruangan sejuk dan mempertahankan suhu sejuk tersebut. Beralih ke AC berefisiensi tinggi dapat mengurangi penggunaan energi untuk AC sebesar 20% hingga 50%. Pemantauan dan pengontrolan AC ini dapat dilakukan dengan konsep Internet of Things (IoT) yang memungkinkan AC untuk dipantau dan dikontrol dari lokasi manapun yang memiliki koneksi internet.
