Suhu permukaan bumi sudah naik rata-rata sebesar 1°C sejak awal revolusi industri (akhir abad ke-18) dan kenaikan ini akan mencapai 2°C pada pertengahan abad ini dan lebih dari 3,5°C pada akhir 2100 jika tidak dilakukan tindakan drastis untuk mengurangi laju pertambahan emisi gas rumah kaca dari aktifitas manusia. Kegiatan manusia yang beragam mampu menimbulkan peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Efek rumah kaca di Bumi, di mana panas matahari terjebak di atmosfer bumi dan menyebabkan suhu bumi menjadi hangat. Gas-gas di atmosfer yang dapat menangkap panas matahari disebut gas rumah kaca (GRK). Yang termasuk gas rumah kaca yang ada di atmosfer antara lain adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC dan PFC). GRK secara alami dihasilkan dari kegiatan manusia sehari-hari, tetapi jumlah meningkat dratis sejak tahun 1950-an karena semakin majunya industri, dimana perekonomian berbanding lurus dengan laju konsumsi energi. Efek rumah kaca sejatinya dibutuhkan untuk menjaga suhu bumi, supaya perbedaan suhu antara siang dan malam tidak terlalu besar. Namun efek rumah kaca yang berlebihan akan menyebabkan pemanasan global di mana suhu di bumi akan naik secara signifikan.
Kecenderungan seseorang dalam menggunakan teknologi menjadi acuan utama perhitungan emisi GRK yang ditimbulkan dari aktivitasnya. Seseorang bisa cenderung lebih menyukai makanan daging-dagingan sehingga jumlah emisi dari kegiatan memakannya besar. Bisa juga mungkin seseorang masih cenderung memilih berkendara dengan mobil/motor pribadi karena faktor kenyamanan dan privasi, padahal kendaraannya adalah ICE sehingga menyebabkan emisi. Sebagaimana kita tahu bahwa emisi GRK berdampak pada pemanasan global, maka sebaiknya mulai saat ini kita harus mengurangi emisi tersebut. Tindakan pengurangan emisi pada intinya dapat dilakukan melalui penghematan energi melalui tindakan sederhana yaitu mematikan lampu dan AC jika tidak digunakan, efisiensi energi dengan beralih dari teknologi efisiensi rendah ke tinggi seperti kompor induksi dan kendaraan listrik. Serta penggunaan energi terbarukan, seperti penggunaan PLTS. Disamping itu, tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi GRK adalah mengemudi secara efisien, mengecek berkala kendaraan pribadi baik mesin dan ban, kurangi penggunaan AC dan lampu siang hari dengan memaksimalkan udara dan cahaya masuk ke dalam ruangan.
Pengurangan emisi karbon di level pemerintah memiliki target tahunan dari emisi acuan yang ada di tahun awal perhitungan. Indonesia memiliki target penurunan emisi GRK 29% dengan kekuatan dalam negeri, dan meningkat menjadi 41% di tahun 2030 dengan kerjasama luar negeri. Aksi pengurangan emisi karbon biasanya dihimbau untuk pengguna energi besar, seperti pembangkit listrik, transportasi, dan industri. Sehingga secara berkala tercatat dan terpantau oleh dinas/kementerian yang bersangkutan. Biasanya penurunan emisi di pemain besar tersebut memiliki target yang jelas dari pemerintah dan bersifat wajib/mandatory. Bahkan di masing-masing sektor tersebut sudah ditetapkan panduan inventarisasi dan perhitungan emisi GRK. Sedangkan aksi pengurangan emisi karbon individu sifatnya kecil-kecil dan menyebar. Secara global, rata-rata jejak karbon seseorang mendekati 4 tonCO2 per tahun. Untuk mendapatkan peluang terbaik menghindari kenaikan suhu global 2oC, jejak karbon global rata-rata per tahun harus turun di bawah 2 tonCO2 pada tahun 2050. Hingga saat ini pengurangan emisi individu masih bersifat sukarela/voluntary. Gaya hidup individu berkontribusi pada kenaikan dan penurunan emisi. Hubungan antara konsumsi dan perubahan iklim secara signifikan mengurangi berbelanja barang yang tidak diperlukan. Efek positif dari kemauan untuk mengubah perilaku demi iklim menimbulkan perasaan yang menonjol bagaimana berperilaku tanpa merusak iklim. Namun, penilaian jejak karbon perorangan yang masih bersifat sukarela ini belum banyak dilakukan. Sehingga diperlukan kegiatan yang mendorong masyarakat untuk menilai jejak karbonnya.
