Pariwisata melibatkan sektor transportasi, sektor komersial dan sektor kuliner. Pariwisata memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produk domestik bruto global, dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 4% per tahun. Sehingga melampaui banyak sektor ekonomi lainnya. Namun, emisi karbon global yang terkait dengan pariwisata saat ini tidak terkuantifikasi dengan baik. Antara 2009 dan 2013, jejak karbon global pariwisata telah meningkat dari 3,9 menjadi 4,5 GtCO2e, empat kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya dan menyumbang sekitar 8% dari emisi gas rumah kaca (GRK) global. Aktivitas perjalanan, belanja dan makan adalah kontributor emisi CO2 yang signifikan. Sebagian besar jejak karbon dilakukan oleh dan di negara-negara berpenghasilan tinggi. Peningkatan pesat dalam permintaan pariwisata secara efektif melampaui dekarbonisasi teknologi terkait pariwisata. Bangunan dimana wisatawan tinggal menghasilkan emisi dari penggunaan energi. Emisi dari penginapan cenderung tertinggi di resor dan hotel yang menawarkan layanan modern, sementara penginapan yang lebih kecil seperti homestay dan wisma memiliki emisi yang lebih rendah untuk sebagian besar. Banyak akomodasi mengandalkan pemanas dan AC untuk menjaga kamar tamu pada suhu yang menyenangkan di iklim panas atau dingin. Sistem yang mengkonsumsi banyak energi dan menghasilkan CO2 juga diterapkan pada pemanas air yang digunakan untuk menghangatkan pancuran, kolam renang, dan spa. Listrik yang digunakan untuk menyalakan lampu, TV, lemari es, mesin cuci, dan peralatan lainnya juga menjadi penyumbang besar, terutama di daerah dengan sistem yang ketinggalan zaman atau tidak efisien. Pendingin/penghangat ruangan memiliki porsi 48% dalam menghasilkan emisi GRK, disusul dengan emisi yang bersumber dari peralatan umum yang ada. Selain itu, proses konstruksi pengembangan pariwisata mengeluarkan karbon melalui pembukaan kawasan alam/pembersihan lahan. Ekosistem, seperti hutan, bertindak sebagai penyerap karbon dengan menyerap dan menyimpan emisi. Ketika vegetasi kaya karbon ini dihilangkan, CO2 dilepaskan kembali ke atmosfer. Pemborosan makanan dalam pariwisata adalah bagian dari masalah global yang lebih besar.
Estimasi emisi CO2 global dari sektor pariwisata sekitar 2,5–3% dari total emisi CO2e global (diluar rantai pasokan yang mendukung pariwisata).Frekuensi perjalanan, jarak dan moda transportasi, mencerminkan emisi GRK yang ditanggung oleh para wisatawan. Sebagian besar jejak karbon ini disebabkan oleh perjalanan domestik. Pengunjung dari dan di negara-negara berpenghasilan tinggi memberikan proporsi yang tinggi dari transportasi (terutama melalui udara), barang (belanja) dan perhotelan (akomodasi dan restoran) yang mencerminkan ekspektasi perjalanan mereka. Pengunjung dari dan di negara-negara berpenghasilan rendah mengkonsumsi sebagian besar makanan yang tidak diproses/instan dan menggunakan transportasi darat, serta kurang memilih layanan perhotelan komersial yang besar. Kunjungan wisatawan dari dan ke negara berpenghasilan tinggi terkait dengan sebagian besar emisi CO2 dari transportasi (terutama melalui udara) dan produsen barang. Kunjungan wisata dari dan ke negara berpenghasilan rendah mencakup porsi CO2 yang tinggi dari transportasi darat. Sehingga kontribusi emisi perjalanan udara mencapai 12% (0,55GtCO2e) dari jejak karbon global pariwisata, yang disebabkan oleh masuknya (1) makanan dan belanja, (2) perjalanan udara, dan (3) emisi GRK non-CO2 dari konsumsi makanan.
Ketiga sektor tersebut merupakan penghasil emisi terbesar dalam pariwisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menyampaikan komitmennya untuk mengurangi emisi GRK di sektor pariwisata. Sehingga perlu adanya pengalihan bahan bakar ramah lingkungan oleh pesawat dan moda transportasi lain. Jika diperlukan, penerbangan ke tempat pariwisata semuanya adalah kelas ekonomi. Sektor komersial mengacu pada bisnis hotel dan penginapan serta pusat perbelanjaan. Dalam hal ini, sektor komersial perlu melakukan penghematan energi besar-besaran dan menggunakan PLTS. Terakhir, emisi dari sektor kuliner perlu memperhatikan jumlah wisatawan yang datang. Selain itu, ekowisata merupakan solusi dalam pariwisata berkelanjutan yang melibatkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Ekowisata dapat didefinisikan sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke kawasan alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahteraan masyarakat lokal, dan melibatkan interpretasi dan pendidikan.
