
Sektor transportasi menyumbang sekitar 23 – 25 persen emisi CO₂ energi global, dan hampir 40 persen di antaranya berasal dari segmen heavy transportation seperti truk jarak jauh, kapal, dan pesawat. Data International Energy Agency (IEA) (2023) menunjukkan bahwa meskipun elektrifikasi kendaraan ringan berkembang pesat, dekarbonisasi angkutan berat berjalan lebih lambat karena keterbatasan densitas energi baterai dan waktu pengisian ulang. Dalam konteks ini, hidrogen hijau muncul sebagai opsi teknologi yang secara teknis lebih sesuai untuk aplikasi dengan kebutuhan jarak jauh, muatan besar, dan waktu operasi tinggi.
Hidrogen hijau diproduksi melalui proses elektrolisis air menggunakan listrik dari energi terbarukan. Berbeda dengan hidrogen abu-abu yang berbasis gas alam, proses ini hampir tidak menghasilkan emisi CO₂ langsung. Menurut International Renewable Energy Agency (IRENA) (2022), biaya produksi hidrogen hijau berpotensi turun hingga 40 – 60 persen pada 2030 seiring penurunan harga listrik terbarukan dan skala ekonomi elektroliser. Penurunan biaya ini krusial karena saat ini harga hidrogen hijau masih berada pada kisaran USD 3 – 6/kg di banyak wilayah, lebih tinggi dibanding hidrogen berbasis fosil.
Pada sektor heavy-duty road transport, sel bahan bakar hidrogen (fuel cell electric vehicle/FCEV) menawarkan keunggulan dalam hal densitas energi dan waktu pengisian. Truk berbasis hidrogen dapat mengisi bahan bakar dalam waktu 10–20 menit dan menempuh jarak lebih dari 600 km, karakteristik yang sulit dicapai oleh baterai konvensional untuk kelas muatan berat. Laporan IEA tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 60 ribu kendaraan berbasis hidrogen telah beroperasi secara global, dengan peningkatan signifikan pada bus dan truk berat di Tiongkok dan Korea Selatan.
Untuk mass transportation di kawasan perkotaan, bus hidrogen menjadi salah satu aplikasi paling matang secara komersial. Program Joint Initiative for Hydrogen Vehicles across Europe (JIVE) yang didukung Uni Eropa telah mengoperasikan ratusan bus fuel cell hydrogen di berbagai kota. European Environment Agency (EEA) (2022) menilai bahwa integrasi bus hidrogen pada jaringan transportasi publik dapat menurunkan emisi lokal (NOx dan partikulat) secara signifikan, sekaligus mengurangi kebisingan di kawasan urban. Selain itu, model depot-based refueling (sistem pengisian bahan bakar yang dilakukan secara terpusat di satu lokasi) membuat infrastruktur pengisian lebih terpusat dan ekonomis dibanding kendaraan penumpang individu.
Pada sektor maritim, hidrogen dan turunannya seperti amonia hijau menjadi kandidat utama dekarbonisasi pelayaran jarak jauh. International Maritime Organization (IMO) (2023) menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sektor pelayaran internasional hingga nol bersih sekitar pertengahan abad ini. Mengingat kapal kargo besar mengonsumsi bahan bakar dalam jumlah sangat besar dan beroperasi lintas benua, bahan bakar sintetis berbasis hidrogen dipandang lebih realistis dibanding elektrifikasi baterai murni.
Sektor penerbangan menghadapi kendala dekarbonisasi yang signifikan karena kebutuhan energi per satuan berat sangat tinggi dan keterbatasan alternatif teknis yang siap pakai. International Air Transport Association dalam Net Zero Roadmap 2023 memperkirakan sekitar 65 persen reduksi emisi hingga 2050 akan berasal dari sustainable aviation fuel, sedangkan hidrogen dan teknologi baru berpotensi menyumbang sekitar 13 persen. Implementasi hidrogen cair pada pesawat komersial masih berada pada tahap demonstrasi dan diproyeksikan mulai memasuki pasar setelah 2035, sehingga kontribusinya dalam jangka pendek masih terbatas.
Struktur pasar menunjukkan bahwa heavy transportation dan mass transportation merupakan segmen rasional untuk adopsi awal hidrogen hijau. Konsumsi energi yang besar, pola operasi terpusat, dan tekanan regulasi emisi yang tinggi membuat investasi infrastruktur lebih ekonomis dibanding kendaraan ringan. Konsensus berbagai laporan menunjukkan bahwa hidrogen hijau berpotensi menjadi pilar utama dekarbonisasi transportasi berat dalam dua hingga tiga dekade mendatang, dengan syarat percepatan investasi dan konsistensi kebijakan tetap terjaga.
