
Kunjungan ke Baduy menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian program Sustainable Emission Reduction Initiative (SERI) Ciptarasa yang dirancang untuk memperkuat kapasitas Kelompok Ciptarasa Lestari (CITARI). Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan kelompok dalam mengelola program dan kunjungan di Ciptarasa dan sekitarnya secara berkelanjutan, berbasis kearifan lokal.
Studi lapangan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi merupakan proses pembelajaran mendalam dari masyarakat adat Baduy yang telah lama dikenal mampu menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Melalui interaksi langsung, peserta tidak hanya belajar dari praktik masyarakat Baduy, tetapi juga terlibat dalam pertukaran pengetahuan bersama berbagai aktor, mulai dari masyarakat lokal, fasilitator, hingga aktor-aktor eksternal yang terlibat dalam, pengelolaan di sana. Proses ini memberikan perspektif yang lebih komprehensif dalam memahami praktik keberlanjutan berbasis komunitas.
Nilai-nilai seperti kesederhanaan, ketaatan terhadap adat, serta pengelolaan sumber daya alam yang bijak menjadi pelajaran penting yang dapat direfleksikan dalam konteks Ciptarasa. Dari Baduy, peserta belajar bahwa keberlanjutan tidak selalu bergantung pada teknologi tinggi, melainkan pada konsistensi dalam menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan. Pemahaman ini menjadi bekal utama bagi CITARI dalam merancang pengalaman kunjungan yang tidak hanya menarik, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan budaya lokal.

Lebih jauh lagi, nilai kesederhanaan dan penghormatan terhadap alam ini sangat relevan jika dikoneksikan dengan transisi energi yang sedang digalakkan di Indonesia. Sebagai contoh, potensi besar PLTS terapung Cirata di Jawa Barat menunjukkan bagaimana pemanfaatan energi surya dapat memaksimalkan lahan perairan tanpa merusak ekosistem darat. Begitu pula dengan pemanfaatan energi angin melalui PLTB Sidrap, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, yang membuktikan bahwa kekayaan alam dapat diubah menjadi energi bersih yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran dalam program SERI Ciptarasa, kelompok CITARI juga melakukan observasi lapangan terhadap berbagai aspek, seperti pengelolaan kunjungan wisata, daya tarik kawasan, sistem pengelolaan lingkungan, serta peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan. Hasil pengamatan tersebut kemudian dianalisis secara kritis dengan mengidentifikasi kelebihan dan tantangan dari model yang diterapkan di Baduy.

Selanjutnya, dilakukan komparasi dengan kondisi di Ciptarasa. Proses ini memungkinkan peserta untuk memahami kesamaan dan perbedaan yang ada, sekaligus merumuskan strategi yang kontekstual. Beberapa praktik dapat diadopsi secara langsung, sementara lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan setempat. Selain itu, proses ini juga membuka ruang bagi pengembangan inovasi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Ciptarasa.
Dengan demikian, studi ke Baduy dalam kerangka program SERI Ciptarasa tidak hanya menjadi kegiatan pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang refleksi strategis yang memperkuat kesiapan kelompok CITARI. Pembelajaran ini diharapkan mampu menjadi fondasi dalam menyambut pengunjung ke Ciptarasa, dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pengalaman wisata, tetapi juga pada edukasi, pelestarian budaya, serta keberlanjutan lingkungan.
