Cara Menggunakan Data:
  1. Angka secara detail dapat dilihat saat mengarahkan pointer ke kolom/garis (Grafik Batang).
  2. Filter data dengan klik tombol “Filter” dan/atau “Semua Tahun” dan pilih kategori dan/atau Tahun yang ingin dilihat secara khusus (Grafik Batang, Grafik Lingkaran).
  3. Arahkan kursor ke warna kategori tertentu untuk melihat nilai dari suatu kategori (Grafik Lingkaran).
  4. Kolom yang bergerak ke kanan menunjukkan pertambahan angka/nilai suatu kategori pada tahu tertentu (Grafik Race).
Penjelasan Grafik

PLN membuat 2 skenario untuk proyeksi bauran energi pembangkitan untuk mencapai target 23% EBT di tahun 2025, yaitu Skenario Optimal dan Skenario Low Carbon. Pada Skenario Optimal, langkah yang dilakukan adalah implementasi co-firing bahan bakar PLTU dengan memanfaatkan biomassa serta penambahan PLTS/PLTB hingga tahun 2030 yang sangat besar. Pada Skenario Low Carbon, langkah yang dilakukan dengan menurunkan porsi bauran energi dari batubara dengan meningkatkan co-firing biomassa dan pemanfaatan gas, serta tetap menjaga bauran energi EBT minimal 23% pada tahun 2025-2030. RUPTL ini juga digadang sebagai “Green RUPTL”. Namun, pada RUPTL ini proyeksi kenaikan porsi EBT dalam bauran listrik tidak signifikan. Kebijakan co-firing hanya berpotensi mengurangi emis karbon sekitar 5,4%. Kemudian, pada Skenario Low Carbon, proyeksi penambahan EBT hanya sebesar 1.8% dari 2025 hingga 2030 dan proyeksi batu bara pada bauran listrik baru 59%. bahkan pada Skenario Optimal, tidak ada proyeksi kenaikan porsi EBT sejak 2025. Menurut Direktur eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, 70% dari total kapasitas pembangkit listrik atau sekitar 80-85 GW listrik Indonesia harus berasal dari energi terbarukan untuk mencapai target dekarbonisasi paling lambat di tahun 2060.