Dalam 20 tathun terakhir total emisi dari sektor transportasi mengalami peningkatan. Peningnatakan ini menjadi signifikan antara tahun 2007 dan tahun 2013 dari 72 juta ton CO2 menjadi 136 juta ton CO2, kenaikannya hampir 2x lipat dalam kurun waktu 6 tahun. Setelah tahun 2013 pun emisi stabil di rentang 130 juta – 135 juta sampai pada tahun 2018 akhirnya mengalami peningkatan lagi sampai di angka 150 juta ton CO2 per tahun, angka ini lalu menurun 24 juta ton CO2 pada tahun 2020. Kenaikan ini menunjukkan bahwa semakin banyak menggunakan moda transportasi utamanya mobil untuk bepergian. Adanya pandemi COVID-19 yang mana melarang masyarakat untuk bermobilitas membantu menurunkan emisi. Penurunan emisi yang diakibatkan oleh pancemi ini hanyalah keajdian sementara yang tidak bisa dijadikan solusi permanen. ada kekuatiran kalau emisi ini akan meningkat kemabli jika situasi pandemi sudah dicabut oleh pemerintah, hal ini ditandai oleh data pada 2 tahun sebelum pandemi yang merupakan puncak emisi dari sektor transportasi ini. 

Data emisi yang tinggi ini menunjukkan kalau sektor transportasi masih mengkonsumsi bahan bakar fosil yang menhasilkan emisi tinggi. Hal ini diperparah dengan harga bahan bakar fosil yang masih terus disubsidi oleh pemerintah. Untuk membantu mengurangi emisi CO2 dari sektor transportasi ini perlu ada pergeseran dalam hal konsumsi energi dari bahan bakar fosil ke penggunaan listrik untuk kendaraan baik itu roda dua atau roda empat. Emisi yang tinggi ini masih punya oeluang untuk ditekan juga dengan peralihan moda transporatasi pribadi ke transportasi umum yang lebih rendah emisi per penggunanya.