Emisi gas rumah kaca nasional di Indonesia berdasarkan sub sektor (Energi, IPPU, Kehutanan, Limbah, dan Pertanian) menunjukkan variasi tren yang signifikan sepanjang periode 2000-2022. Sub sektor Energi mengalami peningkatan emisi yang konsisten hingga mencapai puncaknya pada tahun 2014 sebesar 605.531,21 Gg CO2, sebelum turun drastis menjadi hanya 17.197,77 Gg CO2 pada tahun 2022. Penurunan ini kemungkinan dipengaruhi oleh transisi energi bersih atau kebijakan penurunan emisi di sektor energi. Sub sektor IPPU (Industrial Processes and Product Use) menunjukkan kenaikan emisi yang stabil dari 41.265,27 Gg CO2 pada tahun 2000 menjadi 59.451,89 Gg CO2 pada tahun 2022, yang mencerminkan pertumbuhan aktivitas industri selama dua dekade terakhir.

Sementara itu, sektor Kehutanan menunjukkan dinamika yang mencolok, dengan emisi yang mencapai puncaknya pada tahun 2015 sebesar 1.467.939,39 Gg CO2, sebelum menurun secara signifikan menjadi 219.986,91 Gg CO2 pada tahun 2022. Penurunan ini mencerminkan keberhasilan upaya konservasi, reforestasi, atau kebijakan pengelolaan hutan yang lebih baik. Sebaliknya, sub sektor Limbah menunjukkan tren kenaikan yang konsisten dari 60.929,32 Gg CO2 pada tahun 2000 menjadi 130.384,2 Gg CO2 pada tahun 2022, menyoroti perlunya peningkatan dalam pengelolaan limbah untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Sub sektor Pertanian juga mengalami peningkatan emisi, dari 84.537,46 Gg CO2 pada tahun 2000 menjadi 119.840,97 Gg CO2 pada tahun 2022. Kenaikan ini sejalan dengan intensifikasi sektor pertanian, termasuk peningkatan penggunaan pupuk berbasis karbon tinggi.