Berdasarkan data emisi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, terdapat dua sub-sektor utama yang memberikan kontribusi terhadap emisi nasional, yaitu kebakaran gambut dan dekomposisi gambut. Emisi dari kebakaran gambut menunjukkan fluktuasi yang signifikan dari tahun ke tahun. Misalnya, pada tahun 2000, emisi dari kebakaran gambut tercatat sebesar 14,848.98 Gg CO2, namun meningkat tajam pada tahun 2005 menjadi 179,465.72 Gg CO2, dan mencapai puncaknya pada tahun 2006 dengan 524,807.38 Gg CO2. Setelah itu, angka emisi mulai menurun lagi pada tahun-tahun berikutnya, meskipun tetap menunjukkan angka yang cukup tinggi seperti pada tahun 2014 dengan 314,077.86 Gg CO2 dan tahun 2020 dengan 9,199.81 Gg CO2.
Di sisi lain, emisi dari dekomposisi gambut menunjukkan tren yang relatif stabil dengan sedikit fluktuasi. Emisi pada tahun 2000 tercatat sebesar 432,929.31 Gg CO2, dan meskipun ada sedikit penurunan hingga tahun 2022 (445,904.35 Gg CO2), angkanya tetap tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap total emisi sektor kehutanan Indonesia.
Emisi dari biomassa menunjukkan fluktuasi yang lebih kompleks, dengan beberapa tahun mengalami nilai negatif, yang berarti adanya penyerapan karbon oleh biomassa yang lebih besar daripada emisi yang dihasilkan. Namun, pada tahun 2013, emisi dari biomassa meningkat signifikan menjadi 127,104.46 Gg CO2, meskipun pada tahun-tahun sebelumnya angka emisi sering kali negatif atau lebih rendah.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa kebakaran gambut merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan lonjakan emisi di Indonesia, sementara dekomposisi gambut dan biomassa memiliki dampak yang lebih stabil meskipun tetap signifikan. Pemerintah Indonesia perlu terus fokus pada pengelolaan kebakaran gambut dan mengurangi emisi dari sektor kehutanan untuk mencapai target pengurangan emisi nasional.
