Dalam periode 2000 hingga 2022, terjadi fluktuasi signifikan pada emisi yang dihasilkan oleh berbagai sub sektor pertanian. Salah satu sektor dengan kontribusi terbesar adalah Rice Cultivation (emisi dari budidaya padi), yang mencatat angka tertinggi sebesar 38.030,06 Gg CO2 pada tahun 2022. Peningkatan ini cukup signifikan dibandingkan tahun 2000, yang hanya mencapai 23.335,16 Gg CO2. Hal ini menunjukkan tekanan emisi yang semakin tinggi seiring dengan peningkatan kegiatan budidaya padi.

Pada sektor N2O From Managed Soils (emisi N2O dari tanah yang dikelola), terjadi puncak emisi sebesar 42.749,48 Gg CO2 pada tahun 2017. Meskipun setelahnya angka ini mengalami penurunan, tetap mencatat angka yang cukup tinggi, yaitu 39.728,63 Gg CO2 pada tahun 2022. Tren ini mengindikasikan adanya pengelolaan tanah pertanian yang intensif, dengan potensi dampak besar terhadap emisi gas rumah kaca.

Emisi dari penggunaan urea juga menunjukkan peningkatan tajam, terutama pada tahun-tahun terakhir. Tahun 2020 mencatat emisi urea tertinggi sebesar 6.019,25 Gg CO2, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2000, yang hanya sebesar 3.900,3 Gg CO2. Lonjakan ini menggarisbawahi peran pupuk kimia dalam mendorong emisi dari sektor pertanian.

Dari liming (pengapuran), angka emisi tertinggi tercatat pada tahun 2020 dengan 2.405,79 Gg CO2, sebelum mengalami penurunan menjadi 2.140,45 Gg CO2 pada tahun 2022. Walaupun kontribusinya relatif kecil dibandingkan sektor lainnya, tren fluktuatif ini tetap perlu mendapatkan perhatian.

Sebaliknya, emisi dari Biomass Burning (pembakaran biomassa) cenderung mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2000, angkanya mencapai 2.332,4 Gg CO2, tetapi menurun tajam menjadi hanya 1.473,31 Gg CO2 pada tahun 2022. Penurunan ini dapat mencerminkan upaya mitigasi yang mulai membuahkan hasil di sektor pembakaran biomassa.