Sesuai tujuan utama Perjanjian Paris pada COP 21 tahun 2015, batas suhu pemanasan global adalah di bawah 2°C , (idealnya 1,5°C), dibandingkan dengan tingkat pra-industri (sebelum tahun 1900). Dikutip dari laman resmi European Union, tercatat suhu rata-rata global mencapai 1,1°C di atas tingkat pra-industri pada tahun 2019 dengan laju kenaikan suhu 0,2°C per dekade. Jika dibiarkan, hanya butuh 20 tahun lagi untuk mencapai batas ideal suhu pemanasan global yaitu 1,5°C.

Badan tenaga ahli yang dibentuk PBB untuk perubahan iklim, Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) sudah meneliti dampak pemanasan global jika kenaikan suhu global mencapai 1,5°C dan 2°C. Hasilnya? Ternyata dampak yang terjadi jika pemanasan global mencapai 2°C sangat jauh lebih buruk dari 1,5°C. Berikut adalah dampak-dampak yang akan terjadi jika kita tidak memperlambat kenaikan suhu global berdasarkan hasil penelitian IPCC.

Suhu ekstrem 

Hasil penelitian IPCC menunjukkan negara-negara subtropis akan mencapai 3°C lebih hangat di siang hari pada pemanasan global 1,5°C dan hingga 4°C lebih hangat pada pemanasan global 2°C. Sementara itu,  negara-negara yang berada di lintang tinggi bumi seperti Dataran Arktik akan merasakan 4,5°C lebih hangat di malam terdinginnya pada pemanasan global 1,5°C dibandingkan dengan lebih hangat 6°C pada pemanasan global 2°C. Pada kenaikan suhu global 1,5°C, sekitar 14% populasi Bumi akan terkena gelombang panas yang parah setidaknya sekali setiap 5 tahun, sementara pada pemanasan 2°C, jumlah itu melonjak menjadi 37%. Kemudian, sekitar 61 juta lebih banyak orang di daerah perkotaan negara iklim gurun seperti Afrika Selatan, Amerika Selatan, Australia dan Mediterania akan terkena kekeringan parah pada kenaikan suhu global 2°C dibandingkan 1,5°C.

Bencana Alam 

Pertama, kenaikan suhu ekstrem juga mengakibatkan meningkatnya tingkat presipitasi. Curah hujan tinggi dari badai siklon tropis diproyeksikan lebih tinggi. Selain tingginya tingkat presipitasi, dataran polar yang mencair akibat pemanasan global juga menaikkan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut diproyeksikan menjadi 0,1 meter lebih tinggi pada kenaikan suhu 1,5°C dibandingkan pada 2°C. Apabila pemanasan mencapai 2°C, kenaikan permukaan laut dapat mencapai lebih dari 0,2 meter dan meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir pantai dan erosi pantai. Berkaca terhadap topografis Indonesia sebagai negara kepulauan, Indonesia terancam kehilangan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil akibat muka air laut yang semakin tinggi. Intensitas banjir bandang dan banjir pantai akan semakin banyak terjadi seiring peningkatan curah hujan dan tinggi muka air laut. 

Keragaman Hayati dan Ekosistem 

IPCC melakukan penelitian pada 105,000 spesies serangga, tumbuhan, dan vertebrata di bumi. Hasilnya, pada pemanasan 1,5°C sebanyak 6% serangga, 8% tumbuhan dan 4% vertebrata akan kehilangan lebih dari setengah jangkauan wilayah geografisnya. Sementara itu, pada pemanasan 2°C jumlahnya bertambah menjadi 18% serangga, 16% tumbuhan dan 8% vertebrata yang akan kehilangan lebih dari setengah jangkauan wilayah geografisnya. Dilain sisi, perluasan wilayah jangkauan akan dapat dilakukan oleh serangga pembawa penyakit endemik iklim tropis. Contoh kemungkinan yang terjadi adalah terjadinya ekspansi geografis nyamuk pembawa penyakit seperti Malaria, Demam Berdarah, Chikungunya, Yellow Fever dan Virus Zika. Yang tadinya nyamuk tersebut tidak bisa hidup di daerah iklim dingin, mereka dapat berekspansi ke daerah tersebut akibat pemanasan global. Resiko ekspansi ini akan lebih rendah jika kenaikan suhu dunia dapat ditahan hanya mencapai 1.5°C dibandingkan 2°C.

Kehidupan makhluk hidup di laut juga akan berubah seiring pemanasan global. Ikan-ikan akan bermigrasi ke belahan bumi utara karena suhunya yang lebih sejuk dan kandungan oksigen yang lebih banyak. Namun, terumbu karang dan rumput laut tidak seberuntung ikan. Jika pemanasan global mencapai 1,5°C, seluruh terumbu karang di bumi diperkirakan akan mati sebanyak 70-90%. Lebih parahnya, jika pemanasan global mencapai 2°C, seluruh terumbu karang di bumi diperkirakan akan mati.

Dari segi ekosistem, daerah gurun dan vegetasi gersang akan bertambah luas seiring dengan pemanasan global. Tundra dan hutan pegunungan di daerah lintang tinggi juga terancam mengalami degradasi. Membatasi pemanasan hingga 1,5°C alih-alih 2°C diharapkan dapat mencegah 1,5-2,5 juta kilometer persegi tanah permafrost mencair selama berabad-abad yang selama ini menyimpan karbon secara permanen.

Kesehatan Manusia

Kehidupan manusia tak luput dari ancaman akibat pemanasan global. Masyarakat perkotaan dengan lebih banyak emisi karbon akibat mobilitas yang tinggi dan lebih sedikit pohon akan lebih merasakannya dibandingkan masyarakat pedesaan. Masyarakat perkotaan lebih rentan terkena penyakit yang diakibatkan suhu panas yang ekstrem, bahkan kematian. 

Ketersediaan air bersih juga berkurang seiring dengan kenaikan suhu global. Daerah gurun seperti Timur Tengah sangat rentan akibat kekeringan dan penipisan air tanah. Sementara itu, daerah pesisir juga akan merasakan hal yang sama akibat salinisasi air tawar dikarenakan kenaikan permukaan air laut.

Ketahanan Pangan 

Dari segi kuantitas dan kualitas, ketahanan pangan manusia juga mengalami penurunan akibat pemanasan global. Menurut penelitian IPCC, hasil panen jagung global akan menjadi sekitar 5% lebih rendah pada pemanasan 2°C dan 7-10% hewan ternak akan hilang pada pemanasan sekitar 2°C. Sebagai warga Asia Tenggara yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari-hari, yang harus kita khawatirkan adalah kandungan gizi dari tanaman padi berkurang seiring dengan kenaikan suhu global dan konsentrasi CO².

Ekonomi

Ikan-ikan yang bermigrasi ke ke belahan bumi utara akan membuat industri perikanan di negara tropis memburuk. Menurut penelitian IPCC, sektor pariwisata juga dipengaruhi oleh perubahan yang disebabkan oleh iklim di aset lingkungan yang penting untuk pariwisata, termasuk keanekaragaman hayati, pantai, gletser, dan fitur lain yang penting bagi lingkungan dan warisan budaya.

 Setelah membaca penjelasan di atas, apakah kita akan tetap bersantai sampai pemanasan global tembus batas maksimal 2°C atau berusaha lebih keras lagi untuk menjaga jangan sampai tembus 1,5°C?

Leave a Comment