Beberapa hari yang lalu, PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan bahwa produk yang dirilis pada tahun 2023 lalu, yakni Pertamax Green 95, akan diperluas penjualannya di sejumlah SPBU. Pertamax Green 95 merupakan BBM hasil pencampuran Pertamax dengan Bioetanol sebesar 5% (E5) yang memiliki nilai RON (Research Octane Number) 95. Tambahan bioetanol ini diklaim membuat Pertamax Green 95 lebih ramah lingkungan dibanding ketiga produk bensin sebelumnya, yakni Pertalite dengan RON 90, Pertamax dengan RON 92, serta Pertamax Turbo dengan RON 98. 

Apakah bioetanol itu? 

Sederhananya, bioetanol adalah senyawa yang bisa diperoleh melalui proses fermentasi yang berasal dari tanaman pertanian dengan kandungan gula yang cukup tinggi (singkong, jagung, tebu, dsb). Untuk hal ini, Pertamina menggunakan tanaman tebu sebagai bahan bioetanolnya. Fermentasi tanaman mengubah gula yang terdapat dalam tanaman menjadi etanol, yang merupakan bentuk alkohol. Nah, bentuk alkohol ini kemudian dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar.

Lalu kenapa bioetanol bisa membuat sebuah bahan bakar lebih “ramah lingkungan”? Hal ini karena sifat bioetanol yang dapat dihasilkan oleh penanaman berulang kali dan dapat dibuat dari berbagai bahan baku termasuk limbah pertanian, kehutanan, dan industri. Salah satu contohnya adalah pabrik bioetanol yang dapat menghasilkan produk sampingan berupa pupuk organik untuk tanaman tebu sehingga dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan. Selain itu, sebuah penelitian menemukan bahwa tanaman yang digunakan untuk bioetanol seperti tebu dapat menangkap sebagian kecil karbon organik dalam butir-butir silikanya selama masa pertumbuhan. Penyetokan karbon ini dapat berperan dalam pengurangan emisi sebagai upaya untuk mencegah dampak perubahan iklim.

Tapi kira-kira apa yang membuat alternatif ini gencar ditambahkan pada bahan bakar bensin yang sudah ada sekarang? Berikut beberapa dampak baik yang dapat dihasilkannya.

  • Pembakaran yang lebih bersih

Salah satu dampak positif penggunaan bioetanol dalam bensin adalah pembakaran yang lebih bersih. Bioetanol memiliki sifat yang dapat meningkatkan kualitas pembakaran bensin, sehingga menghasilkan emisi yang lebih rendah. Ketika bensin dicampur dengan bioetanol, pembakaran dalam mesin menjadi lebih efisien serta mengurangi jumlah emisi gas buang yang dihasilkan. Sebuah penelitian di Vietnam menemukan bahwa mesin dan konsumsi bahan bakar meningkat kurang lebih 6% untuk pengujian sepeda motor dan mobil ketika menggunakan bahan bakar E5 dan E10 dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar bensin dengan RON 92.

  • Pengurangan Emisi Karbon Monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC)

Bioetanol dalam bensin dapat membantu mengurangi emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC), dua polutan utama yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Bioetanol meningkatkan oksigen dalam campuran bahan bakar, yang membantu pembakaran yang lebih sempurna dan mengurangi emisi CO dan HC ke udara.

  • Pengurangan partikulat di udara

Penggunaan bioetanol dalam bensin juga dapat membantu mengurangi emisi partikulat di udara. Partikulat adalah partikel-partikel kecil yang berasal dari padatan maupun cairan yang tersuspensi dalam gas (udara). Partikulat ini dapat berupa asap, debu dan uap yang dapat tinggal di atmosfer dalam waktu yang lama. Pencemar yang dihasilkan kendaraan bermotor dapat menyebabkan masalah kesehatan yang cukup fatal. Bioetanol ini dapat membantu mengurangi pembentukan partikulat dalam proses pembakaran, sehingga menghasilkan udara yang lebih bersih dan sehat.

Meskipun bioetanol ini terlihat memiliki cukup banyak dampak baik jika digunakan, terdapat beberapa dampak buruk juga yang dapat dihasilkan dari penggunaan bioetanol pada bensin secara jangka panjang. Dampak buruknya adalah sebagai berikut.

  • Penggunaan lahan yang luas

Produksi bahan baku etanol membutuhkan pertanian dalam jumlah besar. Pembukaan lahan dengan penebangan hutan dapat menyebabkan hilangnya habitat spesies asli serta berkurangnya keanekaragaman hayati. Hal ini juga dapat mengurangi keseimbangan ekosistem di sekitarnya. 

Selain itu, hutan notabenenya digunakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan meningkatkan penyimpanan karbon. Jika hutan tersebut ditebang untuk menanam tanaman yang nantinya digunakan untuk tujuan yang sama, rasanya ironis bukan? Is it worth it? Namun terkait hal ini, tentunya kajian lebih lanjut harus dilakukan terkait perbedaan pengurangan emisi dari hutan dan dari penggunaan bahan bakar nabati. 

  • Penggunaan air

Tebu merupakan tanaman yang membutuhkan banyak air, sehingga penanaman dalam skala besar dikhawatirkan dapat membebani persediaan air setempat. Penggunaan air yang berlebihan dalam pertanian dapat menyebabkan persaingan dengan kebutuhan air lainnya, seperti untuk konsumsi manusia, industri, atau kebutuhan lingkungan. Hal ini nantinya dapat memicu terjadinya kekeringan karena sumber air yang terbatas.

  • Peningkatan emisi CO2 dan NOx

Meskipun penggunaan bioetanol dapat mengurangi emisi partikulat, CO, dan HC, beberapa penelitian menemukan bahwa emisi gas lain seperti CO2 dan NOx meningkat. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan Susanto dan Setianto (2021), yang menemukan bahwa persentase CO2 dan NOx cenderung naik terhadap kenaikan campuran bioetanol dengan menurunnya persentase CO dan HC.

Hal ini cukup menarik mengingat CO2 merupakan salah satu emisi gas rumah kaca yang berniat dikurangi dengan penggunaan bahan bakar ini di sektor transportasi. 

Singkatnya, memang ada beberapa keuntungan dalam penggunaan bioetanol di Pertamax 95, namun terdapat juga dampak buruk yang dapat membahayakan sektor lain seperti hutan yang sudah ada jika digunakan dalam skala besar. Terlepas dari itu, dalam waktu dekat, jika dilakukan secara selektif, penggunaan bioetanol ini dapat membantu dalam masa transisi dari bahan bakar fosil serta merupakan komoditas transisi yang penting dalam perjalanan menuju era elektrifikasi dan hidrogen di Indonesia. Nah, kalau menurutmu, setelah ditelaah dampak baik dan buruknya, apakah penggunaan Pertamax 95 ini masih optimal dilakukan untuk jangka panjang?

Author

Leave a Comment