Carbon offset adalah “menukar” emisi yang kita keluarkan dengan upaya mencegah emisi dihasilkan atau dengan menyerap emisi yang terjadi. Istilah ‘pengimbangan’ dalam konteks carbon offset digunakan karena kontribusi tersebut digunakan untuk menyeimbangkan beberapa atau semua emisi karbon organisasi atau individu itu sendiri, sehingga secara total tidak melebihi batas emisi yang ditetapkan. Offset atau kredit karbon mewakili emisi GRK yang telah dikurangi, dihindari atau ditangkap melalui proyek yang diverifikasi sesuai dengan standar yang kredibel. Setiap offset atau kredit karbon setara dengan satu metrik ton setara karbon dioksida (CO2e). Penggunaan kredit karbon sebagai bagian dari strategi iklim keseluruhan organisasi, individu atau pemangku kepentingan lainnya berfungsi untuk mendorong pengurangan emisi lebih lanjut di tingkat global, serta menciptakan manfaat pembangunan berkelanjutan lainnya seperti penciptaan lapangan kerja atau peningkatan kesehatan, dan lainnya. Kredit karbon dapat digunakan oleh bisnis, organisasi, atau individu untuk mengkompensasi jejak karbon mereka dengan memberi penghargaan finansial pada kegiatan yang telah mengurangi atau menyerap GRK, dan yang juga membawa manfaat pembangunan berkelanjutan lainnya. Jejak karbon adalah perhitungan yang memperkirakan jumlah emisi setara karbon dioksida yang menjadi tanggung jawab suatu negara, bisnis, organisasi, individu, atau pemangku kepentingan lainnya. Untuk tujuan Climate Neutral Now, jejak karbon, jejak GRK, dan inventarisasi GRK merupakan persamaan kata. Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) ditetapkan dalam Pasal 12 Protokol Kyoto. CDM memungkinkan negara dengan komitmen pengurangan emisi atau pembatasan emisi di bawah Protokol Kyoto untuk mengimplementasikan proyek pengurangan emisi di negara berkembang. Proyek-proyek tersebut dapat memperoleh kredit pengurangan emisi bersertifikat (Certified Emissions Reductions – CERs) yang dapat dijual yang dapat dihitung untuk memenuhi target Kyoto atau digunakan untuk tujuan sukarela. CER adalah jenis kredit karbon atau offset yang dikeluarkan di bawah Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) dari Protokol Kyoto. Satu CER setara dengan satu metrik ton CO2e.
CO2 dihasilkan ketika zat yang mengandung karbon dibakar atau meluruh. Aktivitas manusia mempengaruhi siklus karbon alami melalui perubahan penggunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan penumpukan karbon di atmosfer. Tumbuhan memperoleh CO2 dari atmosfer melalui fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat yang sebagian diubah menjadi jaringan tumbuhan baru. Ketika ini terjadi, karbon difiksasi ke dalam pohon lalu mengakumulasi biomassa dalam bentuk karbon organik. Selama pertumbuhan terjadi, CO2 terus diserap. Tingkat penyerapan akan tergantung pada tingkat pertumbuhan tanaman. Selama pertumbuhan tanaman melebihi dekomposisi, laju bersih penyerapan karbon akan positif. Sepanjang hidup tanaman dan setelah tanaman mati, sisa tanaman, akar dan bagian lainnya diurai oleh mikroba. Sebagian karbon dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai CO2 melalui respirasi dan sebagian lagi menjadi bagian tanah dalam bentuk bahan organik tanah. Bahan organik tanah terurai sangat lambat dan karenanya tanah menjadi tempat cadangan karbon yang substansial. Tingkat karbon tanah tergantung pada banyak variabel: aktivitas mikroba, suhu, kelembaban, dan gangguan tanah seperti aktivitas pertanian, pembukaan hutan, atau kebakaran. Individu dapat mengurangi atau meniadakan emisi CO2 melalui offset dengan menanam pohon. Misal, seseorang sering menggunakan kendaraan ICE, maka sebaiknya untuk mengimbangi emisi yang sudah hasilkan dari kendaraan tersebut, maka dapat menanam pohon untuk men-offset karbon dari kendaraannya. Setiap jenis dan usia pohon memiliki nilai serapan karbon yang berbeda pula. Semakin banyak menanam pohon, semakin besar serapan karbon di bumi dan sangat membantu mengurangi emisi CO2. Menanam lebih dari setengah triliun pohon dapat menangkap sekitar 205 gigaton karbon (satu gigaton adalah 1 miliar metrik ton), dan mampu mengurangi karbon di atmosfer sekitar 25%. Hal tersebut cukup untuk meniadakan sekitar 20 tahun emisi karbon yang dihasilkan manusia pada tingkat saat ini, atau sekitar setengah dari semua karbon yang dipancarkan oleh manusia sejak 1960.
Gojek sebagai perusahaan jaringan transportasi mengajak konsumennya untuk melakukan carbon offset melalui program GoGreener Carbon Offset. Program ini adalah upaya melakukan pengimbangan nilai emisi yang telah dihasilkan dengan menyerap jejak karbon demi membantu mencegah dampak buruknya pada iklim. Salah satu upaya dalam menyerap karbon adalah penanaman pohon. Dengan menanam pohon-pohon baru, kita akan membantu menciptakan ruang hijau yang lebih luas dan memperbaiki kualitas udara. Pohon yang ditanam dapat menyerap emisi karbon dioksida dari atmosfer, dan melepas oksigen kembali ke alam. GoGreener Carbon Offset memudahkan konsumen untuk menyerap jejak karbon melalui penanaman pohon. Dengan teknologi Gojek dan Jejak.in, kegiatan penanaman pohon untuk carbon offset dapat dilakukan dengan mudah, transparan, serta berkelanjutan.
Selain menanam pohon, carbon offset juga bisa dilakukan dengan penggunaan energi terbarukan, seperti penggunaan PLTS atap, pemanas air surya, kendaraan listrik. Atau Anda juga bisa melakukan tindakan pengurangan emisi, seperti penghematan listrik dan upgrading perabotan elektronik. Masyarakat juga bisa mengubah pola makan dengan mengurangi makan daging dan memperbanyak makan sayur (vegan diet). Serta jangan lupa sering gunakan transportasi umum. Berkebun di halaman rumah maupun vertical gardening juga dapat membantu mengurangi emisi karbon. Untuk di level perusahaan, selain menggunakan energi terbarukan, juga dapat melakukan perdagangan emisi (emissions trading) dengan perusahaan lain yang memiliki emisi di atas ambang batas.
