Apa itu COP?
COP adalah sebuah singkatan dari Conference of The Parties. COP juga merupakan badan pembuat keputusan tertinggi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang diadakan setiap tahun. UNFCCC adalah konvensi internasional dalam isu lingkungan untuk mendukung respons global terhadap ancaman perubahan iklim, juga merupakan nama dari sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas menjalankan konvensi ini. Sementara itu, angka 26 adalah angka urutan konferensi yang telah diselenggarakan. Jadi, COP26 yang berlangsung tahun ini adalah konferensi ke-26 yang telah dilaksanakan.
COP26 diselenggarakan dari tanggal 31 Oktober 2021 sampai dengan 12 November 2021 di Glasgow, Skotlandia, Inggris Raya. Konferensi tingkat tinggi ini diikuti oleh 128 negara dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Apa saja kontribusi COP?
Dalam pelaksanaannya, COP sudah menghasilkan beberapa keputusan penting dalam mitigasi ancaman perubahan iklim dunia, salah satunya adalah Protokol Tokyo. Protokol Tokyo berisi tentang kewajiban secara hukum bagi negara-negara maju untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mereka. Protokol Tokyo disahkan pada COP3 tahun 1997, tepatnya 2 tahun setelah COP pertama digelar di Berlin, Jerman pada tahun 1995.
Selanjutnya, COP juga menghasilkan Persetujuan Paris yang memiliki tujuan utama untuk membatasi kenaikan suhu global sebanyak kurang dari 2°C dan berupaya agar kenaikan suhu global hanya mencapai maksimal 1.5°C dalam abad ini. Persetujuan Paris disahkan pada COP21 tahun 2015.
Apa agenda dari COP tahun ini?
Tahun ini, COP26 akan membahas sejauh mana komitmen negara-negara yang berpartisipasi dalam Persetujuan Paris. Tolok ukur komitmen tersebut dinamakan Nationally Determined Contribution (NDC), yang berisikan rencana, kebijakan, perkembangan dan target setiap negara dalam menanggulangi ancaman perubahan iklim. Selain itu NDC juga sebagai kontribusi setiap negara dalam berkomitmen mencapai target global yang ditetapkan dalam Persetujuan Paris. Konferensi ini adalah pertemuan pertama yang melakukan evaluasi NDC sejak pertama kali Persetujuan Paris disahkan di tahun 2015.
Apa yang diharapkan dari COP tahun ini?
Dilansir dari situs resmi COP26, ada 4 sasaran penting yang harus dicapai dalam konferensi ini, antara lain sebagai berikut:
- Mencapai ‘Net Zero’ di pertengahan abad dan mempertahankan kenaikan suhu global maksimal 1.5°C
Dalam mencapai target ini, hal-hal yang bisa dilakukan negara partisipan adalah dengan berkomitmen untuk mempercepat pensiun batubara dalam sektor energi, mempercepat peralihan ke kendaraan listrik, mengurangi deforestasi, dan mendorong investasi energi terbarukan.
- Melindungi masyarakat dan habitat alami
Untuk memastikan tujuan perlindungan terhadap masyarakat dan habitat alamai tercapai, maka setiap negara harus membangun sistem pertahanan, sistem peringatan, infrastruktur serta pertanian yang tangguh untuk menghindari hilangnya rumah, mata pencaharian, dan bahkan nyawa.
- Mobilisasi finansial
Untuk mencapai 2 tujuan di atas, diharapkan negara-negara maju dapat membantu pendanaan iklim negara-negara berkembang setidaknya sebesar 100 miliar dolar atau sekitar 1.400 triliun rupiah setiap tahunnya mulai tahun 2020. Kemudian, pendanaan iklim juga dibutuhkan dari pihak pemerintah dan swasta. Pendanaan dari pihak pemerintahan dapat lebih fokus kepada infrastruktur yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan dapat menuju kepada ekonomi yang lebih hijau. Sementara itu, pihak swasta dapat fokus kepada inovasi dan teknologi hijau.
- Implementasi, mengubah ambisi menjadi aksi
Poin ini dilakukan dengan cara memfinalisasi aturan implementasi dari Persetujuan Paris yang disebut ‘Paris Rulebook’. Tetapi, finalisasi tanpa aksi juga tidak menghasilkan apa-apa. Pada COP26 ini, rencana aksi yang diutamakan adalah percepatan transisi dari batubara ke energi bersih, pemulihan alam untuk kepentingan manusia dan iklim, percepatan transisi ke kendaraan tanpa emisi, dan peningkatan ambisi iklim melalui sains dan inovasi.
