
Saat ini, transisi menuju sistem energi yang modern, dapat diandalkan, dan lebih rendah karbon sedang berlangsung secara global. Setidaknya terdapat dua faktor pendorong utama dalam transformasi sektor energi ini,
yakni keekonomian teknologi energi terbarukan (ET) yang semakin kompetitif dan juga upaya global dalam
memitigasi berbagai dampak bencana yang tak terbalikkan dari perubahan iklim. Bagaimana konteks transisi energi
di Indonesia? Tulisan ini merangkum beberapa penelitian sebelumnya serta data dan informasi terkait urgensi
transisi energi di tanah air. Studi komparatif di Jerman, Tiongkok, dan India juga dilakukan untuk mengekstrak
bagaimana ketiga negara ini sukses mengakselerasi pembangunan ET.
Setidaknya, ada lima alasan mengapa transisi ET di Indonesia menjadi penting, yaitu: 1) memastikan ketahanan
energi nasional dalam jangka panjang; 2) mencegah situasi keuangan PLN yang memburuk kedepan; 3) mengukur
dan mengelola potensi pengurangan PDRB dari sumber-sumber energi fosil di tingkat nasional dan daerah; 4) mengantisipasi terjadinya potensi aset dan infrastruktur energi fosil yang terdampar (stranded asset); 5) Memenuhi target KEN dan target perubahan iklim (NDC). Untuk dapat mengakselerasi transisi energi rendah karbon, tiga negara yang dianalisis dalam tulisan ini juga memberikan sedikitnya lima pembelajaran terbaik bagi Indonesia, yakni: kepemimpinan, kebijakan yang terintegrasi & beradaptasi, dukungan penelitian & pengembangan, kebijakan pendukung untuk biaya & harga, serta pengelolaan jaringan ketenagalistrikan.
