Dari seporsi makanan Anda, tentunya ada proses penanaman – produksi – pengolahan – distribusi – konsumsi dan pengolahan sisa organik. Keseluruhan rantai proses dari mulai produksi hingga makanan sampai Anda dan pengolahan limbah organik dari makanan tersebut menghasilkan jejak karbon yang cukup besar dan memiliki dampak terhadap lingkungan. Terlebih jika Anda berbelanja bahan makanan tanpa ada rencana, akhirnya akan menimbulkan limbah bahan makanan yang terlanjur basi karena tidak segera diolah. Selain makan sayur dan buah, Anda juga memakan daging, susu dan olahannya yang dapat menambah emisi GRK pada makanan Anda. Contoh emisi yang ditimbulkan dari rantai makanan adalah dampak penggunaan pupuk dan pestisida di lahan pertanian/perkebunan. Selain itu, lahan untuk bertani/berkebun menimbulkan emisi dari perubahan penggunaan lahan. Selanjutnya, emisi transportasi dari lahan tersebut ke pabrik, emisi saat pengolahan di pabrik, emisi pembuatan kemasan, emisi transportasi saat distribusi, emisi di rumah ketika memasak, mendinginkan/menghangatkan, dan mencuci peralatan. Pada ujungnya menghasilkan limbah sampah organik. Kombinasi penggunaan lahan dan emisi tahap pertanian menyumbang lebih dari 80% jejak kaki untuk sebagian besar makanan. Transportasi merupakan penyumbang kecil emisi, kurang dari 10%. Rata-rata emisi makanan rumah tangga Amerika adalah sekitar 8 ton CO2eq per tahun. Transportasi makanan hanya menyumbang 5% dari ini (0,4 tCO2eq). Hal ini berarti bahwa jika sebuah rumah tangga mendapatkan semua makanan mereka secara lokal, pengurangan maksimum jejak mereka adalah 5%. Sangat sedikit makanan yang diangkut melalui udara, setidaknya menyumbang 0,16% dari total perjalanan makanan. Namun, untuk beberapa produk yang diangkut melalui udara, emisinya bisa sangat tinggi, sekitar 50 kali CO2eq lebih banyak daripada pengiriman melalui kapal laut per ton-kilometernya. Konsumsi makanan diperkirakan bertanggung jawab atas 10,2–17,4 GtCO2e pada 2010 atau sebesar 28% emisi global di semua sektor, dengan kontribusi konsumsi produk hewani sebesar 62% atau sekitar 6,1–10,9 GtCO2eq dari jumlah total emisi GRK dari makanan.
Daging adalah makanan yang dikonsumsi oleh manusia untuk mendapatkan kebutuhan protein. Protein yang berasal dari hewan disebut dengan protein hewani. Sementara protein yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati. Pengelompokan daging ini bisa dikenali dari warnanya. warna daging tersebut dipengaruhi oleh protein mioglobin. Mioglobin adalah protein yang mengikat oksigen. Jika hemoglobin bertugas mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel di tubuh, mioglobin bertugas menyimpan oksigen di dalam sel. Secara umum, kelompok daging merah punya mioglobin lebih banyak. Contoh daging yang termasuk daging merah adalah daging dari hewan ternak. Yaitu sapi, kerbau, domba, kambing, babi, dan kuda. Sementara yang termasuk ke dalam daging putih adalah daging yang berasal dari unggas, ikan-ikanan, reptil, udang, kerang, dan hasil laut lainnya.
Umumnya, hewan berdaging merah merupakan hewan ruminansia. Hewan ruminansia memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan hewan lainnya. Lambung mereka memiliki empat ruangan, yaitu rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut buku), dan abomasum (perut masam). Fase pertama terjadi pada saat awal makanan masuk, makanan hanya dikunyah sebentar dan masih dalam tekstur yang kasar. Selanjutnya makanan akan disimpan dan diuraikan di dalam rumen lambung. Fase kedua yaitu ketika rumen sudah penuh, hewan ruminansia akan mengeluarkan makanan yang dikunyahnya tadi untuk dikunyah kembali hingga teksturnya lebih halus. Kemudian makanan akan masuk ke dalam lambung lagi. Setelah makanan didorong kembali ke rongga mulut untuk dimamah yang kedua hingga tekstur lebih halus, makanan masuk ke lambung retikulum untuk dicampur hingga menjadi gumpalan-gumpalan kasar. Kemudian makanan masuk ke lambung omasum untuk diperhalus secara kimiawi yang dibantu oleh kelenjar enzim dan mengurangi kadar air. Terakhir, makanan berpindah ke lambung abomasum untuk dicerna dengan enzim dan asam klorida dan didorong ke usus halus.
Secara keseluruhan, makanan hewani cenderung memiliki jejak yang lebih tinggi daripada nabati. Sektor peternakan menyumbang 7.100 MtCO2eq per tahun atau 14,5% dari total emisi GRK global. Secara khusus, pada tahun 2018 emisi CH4 dari fermentasi enterik dalam sistem pencernaan ternak ruminansia terus menjadi komponen tunggal terbesar dari emisi sektor ini (2,1 Gt CO2eq). Domba dan keju keduanya memancarkan lebih dari 20 kilogram setara CO2 per kilogram. Unggas dan babi memiliki jejak kaki yang lebih rendah tetapi masih lebih tinggi daripada kebanyakan makanan nabati, masing-masing setara dengan 6 dan 7 kg CO2. Sektor peternakan juga salah satu penyumbang emisi GRK yang dapat menghasilkan gas CH4/metana dari pengolahan pakan ternak dan kotoran hewan ternak, serta gas N2O yang juga dari pengolahan kotoran hewan ternak. Ternak ruminansia seperti sapi, domba, kerbau, kambing, rusa, dan unta memiliki perut bagian depan (atau rumen) yang mengandung mikroba yang disebut metanogen. Mikroba ini mampu mencerna bahan tanaman kasar dan menghasilkan metana sebagai produk sampingan pencernaan (enterik). Metana (CH4) ini dilepaskan ke atmosfer saat hewan bersendawa.
Food and Agricultural Organization (FAO) menghitung bahwa antara tahun 2005 dan 2015, emisi GRK industri sapi perah meningkat sebesar 18% seiring dengan meningkatnya permintaan akan susu. Emisi GRK, seperti metana, dinitrogen oksida dan karbon dioksida diproduksi pada berbagai tahap peternakan sapi perah. Produk olahan susu tersebut semakin banyak dikonsumsi di Indonesia. Produk diary dapat menjadi makanan utama dalam program diet. Produk olahan susu mengacu pada susu atau produk-produk yang terbuat dari susu, terutama susu sapi dan kambing. Beberapa contoh produk ini adalah mentega, yoghurt, krim, dan keju. Produk-produk ini dan variasinya dibuat melalui proses yang panjang seperti pasteurisasi (proses pemanasan makanan untuk menghilangkan bakteri), fermentasi, dan pengadukan untuk menghasilkan kekentalan produk olahan yang berbeda serta untuk menghilangkan bakteri. Produk olahan susu adalah sumber kalsium terbaik.
