
Kelompok Surya dari Kalangan Generasi Z mempresentasikan Hasil Diskusi Energi Terbarukan tentang penggunaan PLTS di Indonesia. (Dokumen tasi Generasi Energi Bersih, 2024)
Sabtu (03/08/2024), Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Bersama kita harus bisa menekan kenaikan suhu bumi 1,5%C agar tidak terjadi bencana alam, kehilangan keanekaragaman hayati, & kerusakan lingkungan hidup manusia. Hal ini juga berkesesuaian dengan kesepakatan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo, yang diwakili oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Siti Nurbaya tentang Perubahan Iklim pada Upacara Tingkat Tinggi Penandatanganan Perjanjian Paris (high-level Signature Ceremony for the Paris Agreement) yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, pada hari Jumat, 22 April 2016. Acara ini dibuka oleh Sekjen PBB, Ban Ki Moon, yang menyelenggarakan upacara tersebut sesuai mandat dari Konferensi Para Pihak ke-21 Konvensi-Kerangka Perubahan Iklim (UNFCCC COP-21) bulan Desember 2015 (PPID KLHK, 2016).
Visi Indonesia Emas 2045 Negara Republik Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil, & Makmur yang disampaikan pada perayaan 100 Tahun Sumpah Pemuda membuat Indonesia harus bisa membuat proses transisi energi ke energi terbarukan menjadi lebih demokratis. Generasi Z (lahir antara tahun 1997 hingga 2012) saat ini merupakan kelompok generasi terbesar di Indonesia dengan jumlah 27,94% dari total penduduk atau 74,93 juta jiwa. Jumlah mereka bahkan mungkin lebih besar dari generasi milenial yang merupakan generasi terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah 25,87% dari total penduduk atau 69,38 juta jiwa (Indonesia Gen Z Report 2024). Sebagai Generasi dengan populasi terbesar di Indonesia, Gen-Z sudah masuk menjadi bagian dari generasi produktif masa mahasiswa dan lulusan baru sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian mereka. Namun demikian untuk bisa mendukung target GDP 8% dari Presiden Terpilih, Generasi ini perlu untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan energi terbarukan agar tidak memproduksi emisi karbon yang berlebihan dan mengurangi jumlah capaian Net Zero Emission Indonesia 2060 atau lebih cepat. Campaigner Generasi Energi Bersih, Riyan Nurrahman berkesempatan menjadi tutor dalam workshop pilar energi terbarukan kegiatan Indonesia Youth for a Sustainable Future (IYSF) di Kementerian Pemuda & Olahraga.

Para Panitia, Tutor, & Peserta Workshop IYSF 2024 menampilkan hasil diskusi yang di inisiasi oleh Trashranger.id dan Kementerian Pemuda & Olahraga (Dokumentasi Trashranger.id, 2024)
Komitmen Net Zero Emission Indonesia tersebut membuat energi terbarukan mendapat perhatian yang lebih besar untuk bisa menggantikan energi kotor yang menjadi primadona energi negara – negara berkembang di dunia dan menjadi salah satu sumber emisi utama yang menyebabkan efek gas rumah kaca dan berbagai bencana alam yang mengancam kelestarian lingkungan.
Energi Terbarukan yang paling inklusif dan mudah penerapannya di Indonesia adalah energi matahari. Potensinya sebesar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, namun yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan Peta Jalan pemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 adalah sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah ini merupakan gambaran potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya di masa datang. Penyerapan energi surya menjadi energi listrik terjadi melalui proses teknologi fotovoltaik yaitu sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersil saat ini menggunakan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal. Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya. Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya dengan BOS (Balance of System) menjadi sistem PLTS. BOS adalah komponen pendukung yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan lain-lain (litbang.esdm.id, 2012).

Penyerahan Sertifikat Tutor Workshop Energi Terbarukan kepada Riyan Nurrahman, Campaigner Generasi Energi Bersih yang sudah memandu jalannya diskusi tentang PLTS di Kelompok Surya.
(Dokumentasi Trashranger.id, 2024)
Diskusi berjalan dengan natural, para peserta berinisiatif untuk bisa membahas energi yang paling mudah diimplementasikan di Indonesia. Pilihan awal berlabuh pada pengolahan sampah menjadi energi namun demikian pengolahan tersebut masih mengeluarkan emisi karbon pada prosesnya, walaupun cukup berpotensi menjadi sumber energi karena jumlahnya yang sangat besar tetapi bentuk pengelolaannya yang masih carut – marut menjadi tantangan terbesar yang dihadapi. Selanjutnya Kelompok Surya melirik energi matahari karena jumlah penyebarannya yang cukup merata di Indonesia. Seluruh masyarakat dapat memperolehnya secara gratis dan bisa dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan. Pengembangan PLTS-nya juga sedang berlangsung pesat. Bahkan salah satu relawan Generasi Energi Bersih telah menjadi penjual komponen PLTS dari Baterai sampai Modul Panel Suryanya. Ia mendapatkan inspirasi dan tatacara pemasangan dari Kampusnya di Universitas Singaperbangsa Karawang. Peserta lainnya juga sudah memiliki pengalaman magang di IESR kantor cabang Semarang, Grace, yang juga sedang magang di salah satu fasilitas pembangkit listrik milik PLN menjelaskan bahwa di tempatnya magang ia belajar bahwa proses ramah lingkungan di kelola dengan cukup baik dan juga sudah dipublikasikan ke sosial media seperti instagram dan Youtube.

One Comment
I do not even know how I ended up here but I thought this post was great I dont know who you are but definitely youre going to a famous blogger if you arent already Cheers