Apa itu LCOE?

LCOE adalah singkatan dari Levelized Cost Of Electricity, yaitu ukuran rata-rata biaya saat ini dari pembangkitan listrik yang dihasilkan oleh suatu aset selama masa pakainya. Dalam praktiknya, LCOE biasanya digunakan untuk membantu pengusaha dan/atau pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. LCOE ini juga sering digunakan untuk memperkirakan harga rata-rata yang harus dibayar oleh suatu aset pembangkit listrik agar dapat mencapai titik impas (break event point) selama masa pakainya.

LCOE merupakan cara untuk membandingkan pembangkit listrik yang punya komponen biaya yang beragam. Misalnya, Pembangit Listrik Tengaa Uap (PLTU) yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar akan punya komponen biaya bahan bakar sepanjang operasinya selain biaya membangun pembangkit listrik di awal. Ini akan berbeda sekali dengan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang hanya ada biaya komponen pembangunan, namun tidak punya biaya bahan bakar, dan bahkan biaya operasi pembangkit listriknya mendekati nol. Oleh karena perhitungan LCOE hanya berlandaskan pada biaya listrik yang dikeluarkan oleh suatu jenis pembangkit listrik tertentu tanpa parameter lain, maka jenis-jenis pembangkit listrik yang memiliki teknologi pembangkitan dan skema pembiayaan yang beragam dapat dibandingkan. 

Bagaimana cara menghitung LCOE?

Rumus dan model perhitungan LCOE telah banyak diterapkan. Prinsip LCOE pada sebuah pembangkit listrik dihitung dari jumlah biaya selama masa pakai aset dibagi dengan jumlah listrik yang dihasilkan selama masa pakai. Dari rumusnya dapat dilihat bahwa apapun yang meningkatkan produksi listrik dan/atau mengurangi biaya, akan dapat menurunkan LCOE. Sebaliknya, apapun yang mengurangi produksi listrik dan/atau meningkatkan biaya akan meningkatkan LCOE.

Faktor apa saja yang mempengaruhi LCOE?

  • Biaya investasi awal/biaya modal 

Biaya investasi awal terbagi menjadi EPC (engineering, procurement, construction) dan biaya pra-perkembangan/pembangunan pembangkit listrik. Biaya EPC meliputi biaya pembelian peralatan, biaya pemasangan, dan biaya penyambungan ke jaringan listrik. Sementara itu, biaya pra-perkembangan meliputi biaya untuk kepentingan administrasi, konsultasi, manajemen proyek, persiapan lokasi, perizinan lingkungan dan pihak berwenang lain seperti penduduk sekitar. Istilah lain yang sering digunakan untuk  biaya investasi adalah CAPEX (capital expenditure).

Di Indonesia, komponen biaya investasi awal pembangkit listrik energi terbarukan cenderung lebih besar dibandingkan pembangkit listrik energi fosil. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah biaya peralatan yang tinggi akibat teknologi yang belum bisa dikembangkan secara masif dan lokal., Selain itu hambatan dalam memanfaatkan/ impor teknologi yang murah dari luar, serta biaya birokrasi antar pemangku kepentingan di tahap  pra-perkembangan. 

Biaya investasi awal berpengaruh secara langsung pada nilai LCOE. Semakin besar biaya investasi awal, maka akan memperbesar nilai LCOE.

  • Biaya operasional dan pemeliharaan

Merupakan  biaya yang diperlukan secara berkala untuk kepentingan operasional dan pemeliharaan peralatan. Besarnya biaya tergantung dari teknologi alat, ukuran sistem, serta seberapa besar lokasi pembangkit listrik dan cakupan alat yang ingin dilakukan pemeliharaan. Istilah lain dari biaya operasional dan pemeliharaan adalah OPEX (operational expenditure).

Jika komponen biaya investasi awal pembangkit listrik energi terbarukan lebih besar dibandingkan dengan pembangkit listrik energi fosil, komponen biaya operasional justru berlaku sebaliknya. Biaya operasional dan pemeliharaan pembangkit listrik energi terbarukan lebih kecil dibandingkan dengan pembangkit listrik energi fosil. Pada PLTU misalnya, biaya operasional dibebankan oleh biaya bahan bakar, dalam hal ini batubara, karena harganya berubah-ubah tergantung dari pasar global dan juga biaya pemeliharaan mesin karena banyaknya komponen yang bergerak di PLTU batubara.

Sama seperti biaya investasi awal, biaya operasional dan pemeliharaan berpengaruh secara langsung pada nilai LCOE. Semakin besar biaya operasional dan pemeliharaan, nilai LCOE akan membesar juga.

  • Faktor kapasitas

Faktor kapasitas adalah rasio dari jumlah listrik yang dibangkitkan oleh suatu teknologi dibagi dengan jumlah listrik maksimum yang dihasilkan oleh suatu pembangkit berdasarkan nilai kapasitas terpasangnya (dihitung dengan menganggap pembangkit selalu membangkitkan listrik sesuai dengan nilai kapasitas terpasang setiap waktunya). Nilai faktor kapasitas ini dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya suatu energi. 

Pada pembangkit energi fosil, faktor kapasitas tergantung pada ketersediaan bahan bakar, dan kesiapan pembangkit untuk beroperasi. Sedangkan pada pembangkit energi terbarukan, faktor kapasitas akan bergantung pada ketersediaan sumber daya energi di alam, misalnya lama dan intensitas penyinaran matahari untuk PLTS atau kecepatan angin yang memutar baling-baling pada PLTB..

Nilai faktor kapasitas berpengaruh langsung sebagai faktor pembagi dalam perhitungan nilai LCOE. Semakin besar faktor kapasitas suatu energi, semakin besar pula listrik yang dihasilkan. Jika listrik yang dihasilkan semakin besar, maka nilai LCOE akan semakin kecil.

  • Biaya pendanaan (Bunga dan WACC)

WACC adalah singkatan dari Weighted Average Cost of Capital yang merupakan rate of return rata-rata yang diharapkan akan dibayarkan perusahaan kepada semua pemegang sahamnya yang mencakup pemegang hutang dan pemegang saham ekuitas (Vaidya). Karena dana yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik sangat besar, maka modal untuk membangun sebuah pembangkit listrik biasanya berasal dari pemegang saham (ekuitas) dan pinjaman dari lembaga keuangan (hutang). Tentunya para pemberi modal tidak serta merta memberi modal, tetapi dengan syarat harus ada “timbal balik” keuntungan dari apa yang telah mereka berikan. 

Bunga hutang dan WACC akan berpengaruh kepada biaya modal. Semakin besar bunga hutang dan WACC, semakin besar pula biaya yang perlu dikembalikan ke investor maupun ke penyedia pinjaman/lembaga keuangan dan nilai LCOE akan semakin besar. Contohnya, pembangkit listrik energi terbarukan yang membutuhkan modal besar di awal sangat rentan terhadap perubahan nilai WACC.

Leave a Comment