Manusia mana yang mau repot mengubah hidupnya demi energi terbarukan? Kita semua bilang kita peduli pada lingkungan, tapi seberapa banyak dari kita yang bersedia melangkah?
Meski teknologi terbarukan berkembang, tapi berapa banyak dari kita yang siap meninggalkan kenyamanan kendaraan berbahan bakar fosil atau membatasi konsumsi listrik di rumah?
Percaya atau nggak, meyakinkan diri sendiri untuk berubah itu kayak ngajak kucing buat renang. Ada ketakutan dan resistensi yang sulit diatasi ketika harus melepaskan sesuatu, bahkan yang remeh.
Kita sering mengutuk konsumsi energi tinggi negara maju, tapi ikut menikmati produk hasil industri mereka? Ini sama kayak kita pingin lingkungan bersih, tapi takut kehilangan kenyamanan.
Muncul juga masalah duit. Bisakah kita jujur mengatakan transisi energi tidak membuat kita khawatir tentang tagihan listrik yang melambung? Perubahan ini butuh lebih dari sekadar kemauan.
Lalu, inklusivitas global dalam transisi energi, saya berpikir apakah negara berkembang benar-benar memiliki peluang yang sama atau hanya akan meningkatkan jurang ketidaksetaraan?
Terus, terkait kebijakan pemerintah, saya merasa sulit percaya pada konsistensinya. Apakah kita harus bertaruh pada masa depan energi kita pada politisi yang terus berubah sikapnya?
Transportasi! Seberapa realistis sih harapan bahwa semua orang bakal pindah ke mobil listrik? better bangun transportasi publik yang nyaman dan ramah lingkungan, kan?
Kita perlu fokus pada solusi. Bagaimana menciptakan masyarakat yang peduli transisi energi tanpa mengorbankan kenyamanan atau menciptakan ketidaksetaraan? Coba cek di akademi.transisienergi.id
Masalah ekonomi, lapangan pekerjaan berkelanjutan? Gak bisa asal janji bos. Kudu diperhatiin peluang dan tantangan di lapangan terlebih di industri energi terbarukan.
