Menjelang akhir bulan Ramadhan, umumnya umat Muslim berlomba-lomba untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Masjid sebagai tempat ibadah akan banyak dikunjungi terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang bertepatan dengan Lailatul Qadar. Salah satu amal ibadah yang dapat dilakukan adalah i’tikaf. 

Menurut KBBI, i’tikaf adalah diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu (sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan). Sementara itu, menurut pengertian syariat makna, i’tikaf berarti ‘berdiam diri di masjid’ dengan niat beribadah kepada Allah SWT.[↗] Selama i’tikaf berlangsung, seorang Muslim harus tetap berada di dalam masjid dengan melakukan berbagai amalan ibadah seperti berdzikir, salat, membaca Al-Quran, muhasabah, atau amal ibadah lainnya yang dapat dilakukan di masjid. Seorang Muslim diperbolehkan untuk keluar dari masjid hanya jika ada keperluan mendesak, seperti ke buang air atau berwudhu untuk menyucikan diri. 

Selain untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, i’tikaf juga dapat memberikan ketenangan spiritual. I’tikaf dalam prakteknya akan berlangsung selama hingga 10 hari. Karena kegiatan ini berada di dalam masjid, maka fasilitas yang ada di dalam masjid haruslah memadai untuk mendukung kenyamanan dan kekhusyukan beribadah. Salah satu yang penting ialah pasokan energi untuk masjid itu sendiri. 

Pasokan listrik akan sangat dibutuhkan mengingat peralatan elektronik yang ada di masjid akan terus menyala seperti air conditioner, microphone, speaker, dan lampu yang jumlahnya cukup banyak. Hal ini bisa menjadi cukup mahal bagi anggaran masjid dan buruk bagi lingkungan. Ada lebih dari 10 jam energi yang terbuang akibat penggunaan alat elektronik tersebut. Bisa bayangkan emisi karbon yang dihasilkan? Oleh karena itu, masjid yang memakai sumber energi terbarukan dapat menjadi pilihan untuk melakukan i’tikaf.

Masjid yang mengadopsi energi terbarukan sebagai sumber listriknya telah menjadi tren yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Dengan mengeksplorasi sumber daya alam yang tak terbatas seperti matahari, angin, atau air, masjid-masjid tersebut tidak hanya mengurangi jejak karbon mereka, tetapi juga memberikan contoh positif dalam upaya melindungi lingkungan. Penerapan energi terbarukan dalam masjid tidak hanya berdampak positif secara lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat dalam hal keberlanjutan. Dengan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, masjid dapat mengamankan pasokan energi mereka dan bahkan menghemat biaya jangka panjang.

Dengan adopsi sistem energi terbarukan yang efisien, masjid dapat menjaga suhu yang nyaman di dalam gedung, terutama saat musim panas atau musim dingin. Sistem pemanas dan pendingin yang beroperasi secara efisien tidak hanya menciptakan lingkungan fisik yang nyaman bagi para jamaah, tetapi juga memungkinkan mereka untuk fokus sepenuhnya pada ibadah mereka tanpa terganggu oleh ketidaknyamanan cuaca.

Selain itu, dengan penggunaan energi terbarukan, masjid dapat memastikan pasokan listrik yang stabil untuk keperluan pencahayaan, pendingin udara, dan peralatan lainnya yang diperlukan untuk menjaga kenyamanan penghuni masjid selama periode i’tikaf. Contoh penerapan ini dapat kita lihat pada masjid di Bantul yakni Masjid Al-Muharram.

Sumber: SuaraJogja.id

Masjid Al-Muharram yang berlokasi di Kampung Brajan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini telah mengaplikasikan penggunaan energi terbarukan dengan memasang PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Atap. Keberadaan tenaga surya itu merupakan kolaborasi Masjid Al Muharram melalui program Sedekah Energi yang diinisiasi oleh MOSAIC (Muslims for Shared Actions on Climate Impact). Kapasitas dari tenaga surya yang terpasang di Masjid Al Muharram sebesar 43 ribu watt. Dua unit inverter, dan dua unit baterai juga telah terpasang. Sehingga dengan PLTS ini, sumber energi untuk kegiatan operasional masjid sudah 100% tercover.[↗] Selain itu, Masjid ini juga memiliki Program Eco-Masjid yang terdiri dari program bangunan ramah lingkungan, penghijauan sekitar masjid, memanen air hujan untuk berwudhu, gerakan sedekah sampah berbasis masjid, masjid ramah difabel, masjid ramah anak, dan masjid dengan tenaga terbarukan.

Penggunaan energi terbarukan dalam masjid juga dapat berperan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan komunitas Muslim. Seperti yang Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (bumi) itu di perbaiki oleh Allah” (QS. Al-A’raf: 56). Dengan memberikan contoh praktis tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melindungi lingkungan, masjid dapat menjadi pusat pembelajaran dan inspirasi.
Dalam Islam, i’tikaf bukan hanya tentang meraih pahala spiritual, tetapi juga tentang bertindak sebagai pelindung lingkungan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari-Muslim). Dengan memilih untuk menjalani i’tikaf di masjid yang mengadopsi energi terbarukan, kita memberikan suara bagi lingkungan, menghadirkan keberkahan dalam perbuatan kita, dan menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi perubahan iklim. Kita tidak hanya meraih pahala spiritual, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa keberkahan bagi bumi yang kita tempati.

Sumber: 

https://news.detik.com/berita/d-7259847/syarat-itikaf-ramadan-2024-di-masjid-istiqlal-cek-informasinya#:~:text=Apa%20itu%20I’tikaf%3F,untuk%20mendekatkan%20diri%20kepada%20Tuhan

https://web.suaramuhammadiyah.id/2023/07/15/sedekah-listrik-bertenaga-surya-masjid-al-muharram-bantul-wujud-masjid-ramah-lingkungan/

Author

Leave a Comment