Dalam memanfaatkan momentum, kita semua harus memiliki garis waktu untuk mengukur rencana dan tindakan, serta mengevaluasi efektivitas tindakan kita. Evaluasi berkala sangat penting karena kita harus benar-benar memilih langkah yang paling efektif. Saat ini, upaya global bertujuan untuk membatasi suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat. Tujuan ini merupakan prasyarat untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Indonesia, sebagai salah satu dari 10 negara penghasil emisi terbesar, tampaknya tidak menganggap serius komitmen iklim tersebut. Meskipun ada beberapa kemajuan dalam hal inisiatif ini selama tahun 2023, emisi terus meningkat dari tahun 2022. Menurut penilaian Climate Action Tracker, kebijakan dan komitmen iklim Indonesia berada di peringkat yang sangat tidak memadai. Hal ini berarti bahwa jika negara-negara mempertahankan ambisi iklim mereka seperti yang tercantum dalam NDC saat ini, maka kita akan mengalami kenaikan suhu global sekitar 4 derajat Celcius.

Saat Indonesia menyambut pemilihan umum pada tanggal 14 Februari 2024, topik terkait iklim sayangnya masih belum menjadi sorotan karena (mungkin) bukan topik yang populer meskipun dampaknya sangat nyata. Indonesia memang memiliki tujuan besar untuk mencapai Indonesia Emas 2045, yang merupakan peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian Bappenas) memberikan penekanan pada upaya untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) agar Indonesia dapat mencapai tujuan Indonesia Emas.

Studi Pembangunan Rendah Karbon Indonesia telah menunjukkan bahwa untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, pembangunan harus berkelanjutan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan transisi yang mulus menuju ekonomi rendah karbon, terutama bagi masyarakat dan daerah yang bergantung pada ekonomi berbasis fosil. Sayangnya, isu ini belum jelas dalam dokumen visi dan misi presiden. Sebagai catatan penting, kita membutuhkan komitmen iklim yang lebih ambisius dan komprehensif. Penegakan yang serius terhadap komitmen tersebut sangat dibutuhkan.

Dengan adanya presiden baru, kita berharap bahwa lingkungan yang lebih kuat dan mendukung untuk kebijakan terkait iklim dan transisi energi akan terwujud di Indonesia.

 

Author

Leave a Comment