Hidrogen hijau sering dipersepsikan sebagai solusi universal dekarbonisasi. Namun secara teknis dan ekonomis, tidak semua sektor energi dan industri rasional untuk dialihkan ke hidrogen. Sejumlah lembaga internasional menegaskan bahwa hidrogen hijau bersifat “targeted solution”, bukan substitusi massal untuk seluruh penggunaan energi fosil.

Secara teknis, hidrogen hijau diproduksi melalui elektrolisis air menggunakan listrik terbarukan. Efisiensi elektroliser komersial saat ini berada pada kisaran 65 – 75 persen. Artinya, sekitar 25–35 persen energi listrik hilang saat konversi menjadi hidrogen. Ketika hidrogen tersebut digunakan kembali untuk menghasilkan listrik melalui fuel cell, efisiensi total rantai energinya turun menjadi sekitar 30 – 40 persen (International Energy Agency, 2023).

Perbandingan ini menjadi semakin jelas di sektor transportasi darat ringan. International Renewable Energy Agency (2023) menyatakan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai mampu memanfaatkan sekitar 70 – 80 persen energi listrik dari jaringan hingga ke roda kendaraan. Sebaliknya, kendaraan berbasis hidrogen hanya memanfaatkan sekitar 25 – 35 persen dari energi awal karena listrik harus diubah dulu menjadi hidrogen, kemudian hidrogen disimpan, diangkut, dan akhirnya diubah kembali menjadi listrik di dalam kendaraan (IRENA, 2023).

Dari sisi biaya, biaya produksi hidrogen hijau global pada 2023 masih berada di kisaran USD 3 – 6 per kilogram, tergantung harga listrik dan faktor kapasitas. Sebaliknya, hidrogen abu-abu berbasis gas alam berada pada kisaran USD 1 – 2 per kilogram tanpa harga karbon (BloombergNEF, 2023). Kesenjangan ini menjadikan hidrogen hijau belum kompetitif untuk sektor yang dapat menggunakan listrik secara langsung.

Dalam konteks pemanas bangunan, UK Climate Change Committee menyimpulkan bahwa penggunaan heat pump berbasis listrik jauh lebih efisien dibandingkan konversi jaringan gas ke hidrogen. Heat pump dapat mencapai koefisien performa (COP) 2,5 – 3,5, yang berarti menghasilkan 2,5 – 3,5 unit panas dari setiap unit listrik. Konversi ke hidrogen memerlukan investasi infrastruktur besar dan membawa tantangan keselamatan tambahan.

Selain itu, terdapat persoalan ketersediaan energi terbarukan. Menurut IEA (2023), produksi 1 kilogram hidrogen hijau memerlukan sekitar 50 – 55 kWh listrik. Jika listrik terbarukan masih terbatas, penggunaan listrik tersebut untuk hidrogen dapat mengurangi peluang dekarbonisasi sektor lain yang lebih efisien melalui elektrifikasi langsung. Sebaliknya, hidrogen hijau lebih relevan untuk sektor yang disebut hard-to-abate sectors. IEA (2023) dan IRENA (2023) menegaskan bahwa industri baja, pupuk (amonia), petrokimia, pelayaran jarak jauh, dan sebagian aviasi merupakan kandidat utama. Di industri baja, hidrogen dapat menggantikan kokas sebagai agen pereduksi dalam proses direct reduced iron, berpotensi menurunkan emisi CO₂ secara signifikan dibandingkan jalur tanur tinggi konvensional.

Kesimpulannya, pendekatan berbasis prioritas sangat penting. Hidrogen hijau bukanlah solusi universal, melainkan instrumen strategis yang efektif pada sektor dengan keterbatasan elektrifikasi langsung. Tanpa penempatan yang tepat, penggunaan hidrogen justru berisiko menciptakan sistem energi yang lebih mahal dan kurang efisien dibandingkan opsi dekarbonisasi alternatif yang telah tersedia.

Author

Leave a Comment