Tumbuh di keluarga kelas menengah membuat saya terbiasa dengan kegiatan menelaah daftar belanja, terutama ketika kita ingin membeli berbagai macam barang. Sesi penelaahan ini mencakup beberapa aspek seperti apakah barang tersebut akan bermanfaat dan mendukung kegiatan pendidikan kita, apakah kita memiliki cukup uang untuk membelinya? Apakah kita memahami sistemnya (jika itu adalah gadget), bagaimana dengan pusat layanannya, apakah ada orang yang sudah menggunakan teknologinya? Dan daftarnya masih terus berlanjut.

Keakraban dan dapat diverifikasi adalah salah satu prioritas utama kebijaksanaan dalam membeli gadget. Ada saja teknologi terbaru yang diiklankan, dan tentu saja ingin memilikinya, namun akhirnya kita tidak jadi membelinya karena tidak memiliki cukup bukti bahwa teknologi tersebut benar-benar bekerja dengan baik dan dampak sampingan dari teknologi tersebut.

Dalam skala yang lebih besar, seperti perencanaan energi nasional, Pemerintah tentu saja memiliki semacam “daftar belanja” untuk jenis teknologi yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi. Dalam rancangan Kebijakan Energi Nasional (KEN), Pemerintah Indonesia berencana untuk memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir mulai tahun 2030-an.

Perdebatan antara yang mendukung dan menolak rencana tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun mengingat rencana pembangunan PLTN di Indonesia sempat terdengar senyap selama beberapa waktu. Para ahli telah memperdebatkan pro dan kontra dari pembangunan PLTN di Indonesia dengan segala konteks geografis dan sosial politiknya.

Keamanan dan potensi bencana kecelakaan telah menjadi perhatian terbesar, menyadari bahwa Indonesia terletak di wilayah cincin api dengan daftar panjang bencana alam. Investasi awal yang sangat besar yang dibutuhkan menjadi hal berikutnya yang harus diperhatikan. Teknologi small modular reactor (SMR) telah dipromosikan sebagai teknologi yang paling mutakhir dan paling aman, namun sayangnya belum diimplementasikan dimanapun sehingga belum ada bukti nyata dari klaim tersebut. Menyadari bahwa ada begitu banyak ketidakpastian dalam pembelian pembangkit listrik tenaga nuklir, mungkin kita perlu meninjau kembali daftar belanja energi nasional, lebih banyak energi terbarukan mungkin?

Author

Leave a Comment