
Hari Bumi dirayakan setiap tahun untuk mengingatkan kita bahwa kita hanya memiliki satu bumi untuk ditinggali. Sayangnya, statusnya sebagai satu-satunya tidak membuat manusia menjaganya dengan baik. Sejarah mencatat bahwa manusia telah menimbulkan beberapa dilema, terutama hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan dan ekologi. Dalam banyak kasus, demi mengejar modernisasi dan kesejahteraan manusia, lingkungan dan keberlanjutan dikorbankan. Dalam perkembangannya, para ahli telah memperingatkan bahwa jika kita ingin hidup lebih lama dan memiliki bumi yang layak huni, kita perlu beralih dari cara-cara eksploitatif dalam merebut ekonomi.
Kesadaran bahwa bumi adalah satu-satunya tempat yang dapat kita tinggali memicu inisiatif tahunan untuk merefleksikan dan mengingatkan orang-orang melalui Hari Bumi. Tahun ini, Hari Bumi mengambil tema Planet VS. Plastik
Meskipun secara khusus menyerukan perlawanan terhadap plastik, musuh yang harus dihadapi tentu saja tidak terbatas pada polusi plastik. Emisi gas rumah kaca telah lama dikenal karena kontribusinya dalam meningkatkan suhu bumi. Penggunaan bahan bakar fosil secara terus menerus merupakan salah satu kontributor yang signifikan terhadap peningkatan emisi. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 112/2022 yang mengamanatkan percepatan penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara. Peraturan tersebut menyatakan bahwa tidak ada lagi batu bara yang diperbolehkan (kecuali yang sudah ada di dalam pipa).
Untuk memerangi musuh jangka panjang ini, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan semua sektor. Sektor-sektor potensial yang belum tersentuh seperti efisiensi energi dan inisiatif bangunan hijau harus lebih diperhatikan dan terus menerus hadir dalam agenda utama. Selain itu, kerangka kebijakan yang kuat dan konsisten harus tersedia untuk memberikan sinyal dan indikasi yang kuat bahwa kita memiliki kepedulian yang serius terhadap masalah ini.
