
Pengembangan potensi bioetanol sebagai bahan bakar pengganti fosil nampaknya berjalan dengan baik. Karena pemerintah saat ini terus mendorong transisinya setelah melihat negara lain berhasil menggunakan bahan bakar nabati (BBN).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, sudah saatnya Indonesia memanfaatkan etanol sebagai energi alternatif untuk mengurangi bahan bakar minyak.
Apalagi sebelumnya Pertamina sudah memaparkan melalui pencampuran Pertamax (RON 92) dengan bioethanol 5%, terjadi peningkatan kadar oktan bensin menjadi RON 95. Etanol membuat kadar oktan pada bensin otomatis naik. Selain itu bensin jadi lebih bersih dan juga mesin kendaraan juga akan semakin baik.
Pada pasar global bahan bakar etanol bernilai $86,0 miliar pada tahun 2021, dan diproyeksikan mencapai $134,5 miliar pada tahun 2031, tumbuh pada compound annual growth rate CAGR sebesar 4,61% dari tahun 2022 hingga 2031.
Berdasarkan data dari Statista pada tahun 2021, Amerika Serikat merupakan produsen bioetanol terbesar di dunia, dengan produksi sebesar 643 ribu barel setara minyak per hari. Brasil dan Indonesia menempati peringkat kedua dan ketiga, dengan produksi masing-masing 376 dan 140 ribu barel setara minyak per hari. Sebagai perbandingan, produksi bioetanol harian Spanyol mencapai 32 ribu barel setara minyak pada tahun tersebut.
Poet Biorefining adalah produsen etanol terbesar di Amerika Serikat. Pada Maret 2023, perusahaan yang berbasis di South Dakota ini memiliki kapasitas produksi etanol sebesar 2,7 miliar galon per tahun di 33 pabrik di Midwest. Di Amerika Serikat, etanol digunakan dalam industri kimia, industri farmasi, dan sebagai aditif bahan bakar motor.

Kebutuhan Bioetanol
Bahan bakar etanol adalah etil alkohol yang digunakan sebagai bahan bakar. Bahan bakar ini lebih sering digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Khususnya sebagai aditif bioetanol untuk bensin. Bahan bakar campuran etanol banyak digunakan di Brasil, Amerika Serikat, dan Eropa. Sebagian besar mobil di Amerika Serikat dapat berjalan dengan campuran etanol hingga 10%. Sedangkan beberapa kendaraan berbahan bakar fleksibel kini sudah dapat menggunakan etanol hingga 100%.
Bioetanol adalah sumber alami untuk energi terbarukan yang dapat diproduksi dari bahan baku pertanian. Umumnya bioetanol terbuat dari tebu, kentang, singkong dan jagung. Namun dengan adanya penggunaan bahan alami tersebut ada beberapa pertimbangan besar tentang produksinya. Diantaranya adalah peningkatan penggunaan lahan subur, dan polusi dari seluruh siklus pembuatan bioetanol, terutama pada jagung. Saat ini Saat ini 93% bahan bakar etanol diproduksi dari sumber alami, sedangkan 3% dari sumber sintetik.
Potensi pengembangan ethanol di Indonesia cukup besar. Total luas daratan di Indonesia mencapai 191 juta hektar di mana dari sisi tanah lebih subur. Meski jenis tanah lebih subur, Indonesia tetap harus banyak belajar metode pemanfaatannya dari negara lain.
Secara kolektif, bioetanol mengurangi 4,4% dari penggunaan minyak untuk transportasi.. Hampir 60% permintaan bioetanol ada di negara-negara The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan 40% di negara-negara non-OECD. Kebijakan yang ada diperkirakan akan meningkatkan permintaan bahan bakar nabati sebesar 5% dari tingkat tahun 2021 pada akhir tahun 2022.
Misalnya, pada Agustus 2022 Amerika Serikat menyetujui Undang-Undang Pengurangan Inflasi yang mencakup insentif untuk biodiesel, bahan bakar penerbangan terbarukan, berkelanjutan, dan bahan bakar lanjutan. Juga dukungan untuk infrastruktur bioetanol dan produksinya. Selain itu, India dengan pencampuran etanol lebih tinggi, Kanada dengan standar bahan bakar bersih, Brasil dengan RenovaBio, Eropa dengan target baru di bawah Fit for 55 dan Amerika Serikat dengan standar bahan bakar rendah karbon [LCFS]. Dengan begitu bisa dipastikan bakal ada lonjakan permintaan bioetanol pada masa-masa yang akan datang. Termasuk juga dengan Indonesia yang sedang mengejar percepatan implementasi bioetanol.
