Sebagian besar energi terbarukan berasal dari alam seperti angin, matahari dan air. Namun, kondisi alam juga tidak selalu bisa diandalkan. Seperti angin, kadang angin berhembus kencang, kadang juga tidak. Sinar matahari juga tidak selamanya terang, seperti di malam hari atau hari-hari musim penghujan. Untuk mengatasi suplai sumber energi terbarukan yang tidak pasti ini, ada teknologi yang disebut Pumped Hydro Energy Storage atau biasa disingkat sebagai PHES yang bisa menyimpan energi listrik jika dibutuhkan.
Prinsip Kerja
PHES pada dasarnya adalah sebuah Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA). Tetapi, PHES memiliki kelebihan dibandingkan PLTA biasa. Pada PLTA biasa, air dari bendungan di elevasi yang lebih tinggi mengalir sesuai hukum gravitasi ke sungai outflow di elevasi yang lebih rendah melewati turbin dan menggerakkannya. Sementara itu, pada PHES air tidak mengalir ke sungai outflow, tetapi ke bendungan yang berada di elevasi lebih rendah. Jadi pada PHES ada 2 bendungan, di elevasi lebih tinggi dan elevasi yang lebih rendah.
Air yang sudah mengalir ke bendungan di elevasi yang lebih rendah ini dapat kembali dipompa ke bendungan yang elevasinya lebih tinggi. Tujuannya untuk menggerakkan turbin kembali ketika permintaan tenaga listrik lebih besar daripada suplainya. Selain selalu bisa diandalkan saat sedang dibutuhkan, PHES juga dapat menyimpan tenaga listrik yang dihasilkannya. Karena hal tersebut PHES disebut sebagai baterai alami.
Potensi dan Kapasitas Terpasang di Indonesia
Dari hasil penelitian IESR, potensi listrik yang dapat dihasilkan PHES di Indonesia adalah 7,308.8 GWh. Provinsi yang memiliki potensi PHES terbesar adalah Sulawesi Tengah disusul Aceh, Papua, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur.
Saat ini belum ada PHES yang terpasang di Indonesia. Rencananya pembangunan PLTA pumped storage pertama di Indonesia berlokasi di hulu Sungai Cisokan, Jawa Barat dengan kapasitas 1.040 MW.
Biaya
Proyek PLTA pumped storage terbesar di dunia yang berada di Provinsi Hebei, RRC membutuhkan dana sebesar 1,87 miliar dolar Amerika. Kapasitas PLTA pumped storage terbesar di dunia ini adalah sebesar 3.600 MW. Dari contoh tersebut, kisaran biaya yang dibutuhkan untuk membangun PLTA berkapasitas 1.040 MW adalah sekitar 500 juta dolar Amerika Serikat. Perlu diingat nantinya akan ada faktor-faktor yang menyesuaikan biaya, seperti perbedaan kondisi medan lokasi, upah pekerja, dan teknologi yang digunakan dalam pembangkit. Semenatara itu, dewan direktur eksekutif bank dunia telah menyetujui pinjaman senilai 380 juta dolar Amerika untuk pengembangan PLTA pumped storage pertama di Indonesia.
Dampak Lingkungan
PHES membutuhkan 2 bendungan di 2 lahan dengan elevasi yang berbeda. Selama pembangunan bendungan, ekosistem lahan dan sungai di kedua tempat akan terganggu. Namun, bendungan yang dibangun juga membutuhkan lahan yang tidak besar karena umumnya reservoir air dirancang untuk menyediakan kapasitas pembangkitan hanya dalam hitungan jam atau hari. Selanjutnya, setelah masa pembangunan bendungan selesai akan ada keuntungan lingkungan yang muncul. Bendungan dapat dijadikan tempat budidaya ikan, sumber air warga sekitar, dan pengatur debit air sungai sehingga mengurangi risiko banjir bagi pemukiman sekitar.
