Dengan meningkatnya mobilitas populasi perkotaan yang terus bertambah dan disertai kemajuan teknologi transportasi, emisi global dari sektor transportasi kemungkinan besar akan meningkat secara bertahap. Dilansir dari Reuter, layanan ride hailing berkontribusi pada meningkatnya kemacetan di dalam kota karena menjadikan lebih sedikit orang yang menggunakan transportasi umum, tetapi tidak ada penurunan kepemilikan mobil pribadi. Banyaknya mobilitas menggunakan mobil pribadi berbanding lurus dengan peningkatan emisi udara perkotaan.Secara umum, mobil perkotaan didesain dengan kapasitas rata-rata 5 orang. Dengan menggunakan mobil sendiri, maka nilai efisiensi penggunaan mobil hanya mencapai 20%.  

Meningkatnya pengguna internet di Indonesia menandakan kita telah memasuki era digital bahkan telah merambah dalam berbagai aspek kehidupannya. Peningkatan angka pengguna internet ini cukup signifikan selama 5 tahun terakhir. Kondisi tersebut mendukung kemunculan berbagai aplikasi atau platform berbasis smartphone  (ponsel pintar) yang mengharuskan penggunanya terhubung dengan internet. Salah satunya adalah platform ride-sourcing, yang banyak digunakan oleh perusahaan jaringan transportasi (Transportation Network Companies – TNC) untuk menghubungkan antara pengguna jasa dan pengendara, seperti Grab, Uber, dan TNC lokal yaitu Gojek, serta TNC regional yaitu Ojek Syar’i (di Surabaya). 

Umumnya perjalanan dengan layanan ride-hailing sekitar 69 persen lebih berpolusi daripada moda perjalanan transportasi umum yang digantikannya dan dapat meningkatkan kemacetan, terlebih saat jam berangkat dan pulang kerja. Perjalanan dengan layanan tersebut masih meningkatkan total jarak tempuh kendaraan dan kemacetan, yang dapat meningkatkan pemanasan global dan polusi udara dari mobil lain yang terjebak dalam lalu lintas. Selain itu, kemacetan lalu lintas memiliki dampak negatif tambahan termasuk peningkatan kebisingan, tabrakan, dan kesulitan dalam bersepeda atau berjalan. Ditambah beban peningkatan mengemudi dan kemacetan tidak terbatas pada pengemudi sehingga membahayakan kesehatan dan kualitas hidup orang-orang yang tinggal dekat dengan jalan-jalan yang padat dan padat. 

Salah satu layanan ride-hailing terbesar adalah Uber, pihaknya mengatakan ingin menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi perubahan iklim dengan terus mempromosikan perjalanan bersama dan sarana transportasi lainnya. Pemain besar lainnya seperti Lyft menyatakan perusahaannya mendorong untuk melakukan berbagi tumpangan dan penggunaan kendaraan listrik. Layanan ride-hailing mengeluarkan hampir 70% lebih banyak karbon dioksida daripada perjalanan yang seharusnya dilakukan penumpang dengan bus, kereta api, sepeda atau berjalan kaki. Studi tersebut diperoleh  berdasarkan survei konsumen. Kendaraan dari layanan ini seringkali memiliki jarak tempuh yang tinggi sehingga berpotensi untuk dilakukan elektrifikasi. Jika perusahaan layanan ride-hailing beralih ke kendaraan listrik (electric vehicle – EV) dan meningkatkan porsi pengumpulan/pooled (untuk ride sharing) hingga 50 persen, emisi akan menjadi 52 persen lebih rendah daripada peralihan mode perjalanan.

Gojek dan Grab melakukan upaya pengurangan emisi karbon dan mendukung pelestarian lingkungan hidup. Pada tahun 2022, Gojek telah merilis layanan kendaraan listrik beroda dua sebagai salah satu upaya mencapai target sebagai perusahaan yang tidak menghasilkan emisi karbon atau zero emisi pada 2030. Gojek melakukan ujicoba dengan akan menggunakan 500 unit motor listrik di Jakarta Selatan, lalu akan meningkatkan skala uji coba dengan target awal pemanfaatan sampai dengan 5.000 unit motor listrik dan jarak tempuh penggunaan kendaraan listrik sebanyak satu juta kilometer di akhir tahun 2022. Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, Gojek menyampaikan hasil pantauan bahwa target 1 juta kilometer telah tercapai hanya dalam waktu 3 bulan pada Mei 2022. Sedangkan pesaingnya, Grab, mengklaim telah mendukung pelestarian lingkungan hidup melalui program Carbon Offsetting with Grab (Langkah Menanam Pohon), Electric Vehicle Provided by Grab (Langkah Kurangi Emisi), dan Recycle with GrabExpress Recycle (Langkah Daur Ulang). Sejak tahun 2019, sebanyak lebih 8.500 armada kendaraan listrik Grab telah membantu mengurangi emisi karbon yang diperkirakan hingga 4.600 ton. Angka tersebut diklaim setara dengan jumlah penyerapan karbon oleh lebih dari 200.000 pohon dalam setahun. Pertengahan tahun 2020, Grab juga meluncurkan sepeda motor listrik sebagai armada untuk para mitra pengantaran GrabFood. Spesifikasi sepeda motor listrik tersebut, antara lain memiliki top speed hingga 60 km per jam, menggunakan baterai lithium-ion battery (60V20Ah) dengan pengisian daya listrik 5 hingga 7 jam. Selain itu, masing-masing baterai dapat menempuh jarak hingga 60 km dimana setiap motor listrik mampu menggunakan dua baterai sekaligus. Perawatan kendaraan ini diklaim mudah dan biaya operasional per kilometer lebih murah dibandingkan motor berbahan bakar bensin.

Peningkatan jumlah konsumen yang menggunakan ride-hailing akan meningkatkan jumlah penyedia layanan (mitra). Dengan kondisi saat ini dimana ride-hailing masih menggunakan mobil konvensional berbahan bakar fosil, maka ride-hailing tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pengurangan jumlah emisi GRK dan tingkat kemacetan di jalan-jalan perkotaan. Sehingga, perlu adanya perubahan gaya mobilitas konsumen untuk menggunakan transportasi publik berbasis massa yang dapat menampung lebih banyak penumpang dalam setiap perjalannya seperti Bus, Angkot, MRT maupun LRT. Hal lain yang dapat dilakukan adalah memilih kendaraan ride-hailing berbasis listrik untuk mobilisasi ke daerah yang tidak dapat dijangkau dengan transportasi publik.

Leave a Comment